Telaah Shalat Jum’at Di Jalan Peserta Aksi Bela Islam 212

(Dalam Perspektif Sejarah dan Fikih)

Jumat diambil dari kata jamaah yang artinya berkumpul. Salat Jumat merupkan simbol (syiar) dari persatuan dan kesatuan umat Islam yang dibingkai dalam bentuk ibadah (taqarrub) kepada Allah SWT. Dari itulah, setiap ada sekumpulan umat Islam dalam pemukiman diwajibkan menyelenggarakan shalat Jumat.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian diseru untuk mendirikan salat Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli, dan itu lebih baik jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jumah : 9).

Rasulullah SAW bersabda : “Shalat Jumat wajib bagi tiap-tiap muslim, dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit”. (HR. Abu Daud dan Hakim).

Dalam sejarahnya, shalat Jumat pertama dan khutbah Jumat pertama oleh Rasulullah SAW dilakukan bertempat disebuah Jalan Bani Salim. Konon jalan ini disebut Ranuna, tepatnya sekitar satukilo meter dari masjid Quba, atau kurang lebih empat kilo meter dari Madinah Al-Munawwarah. Di Jalan Bani Salim ini (bukan dalam bentuk fisik masjid seperti sekarang) Rasulullah SAW melakukan shalat dan khutbah Jumat pertama kali.

Artinya, shalat Jumat tidak harus di masjid, sebagaimana jawaban dari sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu :

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

“Kaum muslimin pernah menulis surat kepada Umar menanyakan tentang shalat Jumat? Lalu beliau menulis surat kepada mereka (yang isinya): “Lakukanlah shalat Jumat di mana saja kalian berada.”

Diriwayatkan pula dari Imam Malik:

“Dahulu para sahabat Muhammad SAW ada di sekitar perairan ini, antara Makkah dan Madinah mereka melakukan shalat Jumat.”

Kemudian, shalat Jumat termegah dan terpanjang dalam sejarah pernah terjadi pada tahun 1453 dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fath. Waktu itu, shalat Jumat  dilakukan di jalan menuju Konstantinopel dengan jamaah yang membentang sepanjang 4 KM dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara. Shalat Jumat tersebut terjadi 1.5 KM depan benteng Konstantinopel. Memang, saat itu dalam proses penaklukan Konstantinopel oleh Sultan yang kemudian mshalat-jumatengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium dan menjadi cikal bakal kekhalifahan Utsmaniyah.

Barangkali, salat jumat di Masjid Istiqlal Jakarta yang akan dilakukan pada Aksi Bela Islam II, 411 kemaren juga merupakan shalat Jumat termegah dalam ‘sejarah didirikannya’ shalat Jumat di Indonesia. Tentu tidak terebayang, betapa syiar Islam melalui shalat Jumat (persatuan umat Islam) akan tercapai kembali jika pada aksi Bela Islam 212 nanti tercipta membentang sepanjang ruas jalan Thamrin-Sudirman.

Fikih Jum’at dan Aksi 212

Shalat Jumat dan demo adalah dua kegiatan dengan motivasi yang berbeda. Motivasi shalat Jumat murni taqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah SWT, sementara Aksi Bela Islam 212, umat Islam mau tazhahur (saling menampakkan) melalui penyampaian aspirasi dengan menuntut penegakan hukum yang berkeadilan.

Sejatinya, dari beberapa penjelasan kitab fikih, ibadah shalat, termasuk shalat Jumat sudah bisa dihukumi sah jika sudah memenuhi syarat-syarat shalat. Dalam shalat Jumat ada syarat lain, dan dalam Aksi 212 kemungkinan besar sudah terpenuhi, termasuk syarat harus di dirikan di tempat pemukiman penduduk (abniyah), bukan berarti harus dikerjakan di bangunan fisik, sebagaimana banyak diartikan. Adapun daerah sekitar Thamrin-Sudirman sudah masuk kategori itu.

Hanya saja, karena shalat Jumat akan dilakukan oleh peserta Aksi Bela Islam 212 bertempat di sepanjang Jalan Raya Thamrin-Sudirman, sebaiknya mendapat izin dari pihak yang berwajib. Karena aksi atau demo di jamin oleh undang-undang, tentu pihak yang berwajib tidak boleh melarang, sebagaimana acara car free day dan lain sebagainya.

Meski demikian, tentu akan lebih afdhol jika shalat Jumat dikerjakan di masjid terdekat sekitar Thamrin-Sudirman. Bagi peserta dari luar Jakarta, karena statusnya musafir yang tidak berkewajiban shalat Jumat, bisa shalat Zhuhur dan jamak ta’khir di waktu shalat Ashar.

Akhiran, shalat Jumat tetap dihukumi sah dilakukan di manapun, termasuk di jalan raya. Hanya saja berhukum makruh, karena dapat mengurangi rasa khusyuk. Kalau tetap bisa menghadirkan rasa khusyuk, tentu memliki keabsahan yang kuat.***Has

Oleh: Abdul Muiz Ali

Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Jakarta Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *