Sikap Hidup Manusia

Sikap Hidup Manusia
Seorang bapak dan ibu di desa Adipuro

ٍSaudara!

Dunia adalah tempat persinggahan sementara manusia setelah melalui alam ruh dan alam rahim. Kemudian setelah alam dunia dilalui, manusia akan masuk ke alam barzah dan alam akhirat yang merupakan akhir dari segala urusan.

Perbedaan kehidupan dunia dan akhirat digambarkan oleh Allah sangat jauh berbeda. Akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi sedangkan dunia adalah kehidupan sementara. Kenikmatan dunia bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat tentu juga jauh berbeda. Allah berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (QS. AL-QOSHOSH ayat 60)

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS. AL-BAQOROH ayat 25)

Bila di tinjau dari sudut agama, manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia yang sementara ini terbagi menjadi empat kategori:

Pertama, Hidup mulia di dunia tapi hina di akhirat

Manusia dalam kategori ini adalah mereka yang hanya mementingkan dunia saja. Mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk mencapai dunianya. Bagi mereka kehidupan akhirat tidaklah menjadi target utama, bahkan untuk meraih kemuliaan dunia, mereka siap menggadaikan kehidupan akhirat sehingga balasannya adalah kehinaan di akhirat kelak.

Allah SWT berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. (QS. HUD AYAT ayat 15)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. HUD AYAT ayat 16)

Kedua, Hidup hina di dunia tapi mulia di akhirat

Manusia dalam kategori kedua ini adalah mereka yang kehidupan di dunianya sangat menyedihkan dibandingkan dengan kategori manusia pertama. Walaupun upaya mengejar dunia diusahakan tapi hasilnya tidaklah menggembirakan, sehingga dapat digambarkan kehidupannya pagi makan sore tiada, badan kurus dihimpit derita sehingga sengsara adalah sahabtnya.

Walaupun demikian mereka adalah orang-orang yang masih punya harapan meraih masa depan dengan mengais akhirat semampunya. Mereka punya pandangan walau di dunia tidak memperoleh apa yang mereka harapkan, tapi akhirat masih menjadi harapan kebahagiaan yang menantinya dengan iman dan amal shaleh. Bagi mereka, yang utama adalah beribadah kepada Allah, setelah itu barulah mereka mencari dunia seketemunya.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. AL-JUMUAH ayat 10)

Untunglah mereka masih menyadari bahwa yang dialami di dunia ini, miskin dan kaya, sengsara dan bahagia adalah sebuah ujian. Ujian dari Allah untuk mengetahui komitmen iman seseorang. Mereka adalah orang-orang yang ridha dengan ketentuan Allah.

Kesadaran ini yang membuat mereka beriman dan bertaqwa, sehingga mereka tetap masih mendapatkan ketentangan, jauh dari gundah gulana, resah gelisah karena mereka mampu mengkondisikan hidupnya dengan iman yang mantap dan menerapkan ajaran Islam sehingga membekas pada ketenangan batinnya.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. AR RO’D ayat 28)

Ketiga, Hidup mulia di dunia dan mulia di akhirat

Kelompok ini adalah orang-orang yang beruntung mendapat karunia dan berkah dari Allah sehingga mampu meraih keduanya, bahagia di dunia bahagia pula di akhirat.

Dunia diraihnya dengan kejujuran, keahlian dan ilmu yang benar sehingga selalu berhasil dalam usaha yang digelutinya. Semua dilalui dengan dengan memperhatikan batas-batas yang wajar. Perjuangan mereka dijadikan jihad dan sarana untuk beribadah kepada Allah semata, sehingga hidupnya diartikan sebagai ujian yang harus dilalui.

Kehidupan akhirat bagi mereka menjadi target utamanya. Mereka selalu berupaya menambah tabungan amal setiap waktu. Mereka menyikapi hidup ini dengan bersyukur ketika menerima karunia nikmat dari Allah sejak bangun tidur hingga tidur lagi, dan bahkan ketika mendapat musibah dan kesulitan mereka selalu bersabar dengan menyikapi hidup optimis dan positif.

Rasul Saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Apabila tertimpa kesusahan, ia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra)

Keempat, Hidup hina di dunia dan hina di akhirat

Ini adalah kategori manusia yang hidupnya sangat menyedihkan dan merugi. Mereka tidak mampu meraih kehidupan dunia semaksimal mungkin sehingga hidup mereka dalam kesengsaraan, penderitaan, kebodohan dan kemaksiatan di tambah lagi dengan kesyirikan, kemunafikan, kefasikan dan kekafiran. Maka lengkaplah perangkat yang mereka peroleh kehinaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.

Saudara!

Idealnya hidup seorang muslim yang beriman adalah bahagia di dunia dan bahagia di akhirat (سعيد فى الدنيا وسعيد فى الاخرة) sesuai dengan doa yang selalu dipanjatkan,

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”  (QS. AL-BAQOROH ayat 201)

Andai kita tidak mampu meraih keduanya, hidup mulia di dunia dan mulia di akhirat, paling tidak kita harus bisa mengejar kemuliaan hidup di akhirat walaupun terpaksa hidup di dunia menerima kehinaan. ***Has

— diolah dari berbagai sumber, terutama dari Buku Memanusiakan Manusia, karya Mukhlis Denros

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *