RAUDHAH

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Secara bahasa artinya taman surga. Area seluas 144 Meter persegi itu tak banyak memuat jama’ah, namun setiap waktunya ribuan orang berdesakan untuk mencicipi “hidangan” surga yang lezat di sana.

Raudhah terletak di antara makam (dahulu rumah Nabi dan ‘Aisyah) dan mimbar sang Nabi. Secara fisik ditandai dengan karpet berwarna hijau. Di dalamnya terdapat mihrab lama di mana sang Nabi melazimkan shalat tahajjud, bagian ini paling favorit karena jama’ah selalu antri agar mendapatkan kesempatan mendaratkan kening mereka di tempat sujud sang Nabi.

Bila menghadap ke arah kiblat, di sisi sebelah kiri Raudhah berbatasan langsung dengan makam sang Nabi, ada 3 pilar yang sangat bersejarah; pilar pertama tempat Nabi menerima tamu penting (usthuwanahalwufud), pilar kedua tempat penjagaan rumah sang Nabi (usthuwanahal-hirs) dan pilar terakhir tempat Nabi bersandar bila letih dari shalatnya (usthuwanah as-sarir).

Tentang Raudhah ini sang Nabi pernah bersabda: “Di antara rumahku dan mimbarku adalah raudhah (taman) diantara taman-taman surga dan mimbarku berada pada telagaku (di surga) “. (HR. Imam Bukhari).

Secara khusus tidak ditemukan dalil tentang keutamaan shalat atau berdo’a di Raudhah selain pernyataan sang Nabi dalam Hadits Riwayat Bukhori di atas. Namun fakta yang terjadi tempat antara “rumah” dan “mimbar” ini telah menjadi “rebutan jama’ah” yang fenomenal (ini pula yang mendasari Ibnu Hajar al-Asqolani dan banyak ulama lain menyebutkan berdo’a di raudhah sangat dianjurkan karena termasuk tempat yang mustajab). Rumah adalah tempat bernaung dan beristirahat. Tempat elemen keluarga membina harmoni berumah tangga. Suami dan istri saling mencintai dan menyayangi sambil membesarkan putera dan puteri buah hati keduanya.

Sementara Mimbar adalah arena dan tempat untuk melakukan perjuangan da’wah. Dari mimbar ini diserukan ajakan untuk beriman kepada Allah, beribadah dengan tekun, dan berjuang memuliakan agamaNya. Dari mimbar ini pula Nabi membangun negeri agar umatnya hidup sejahtera, penuh dengan berkah dalam limpahan rahmat dan kasih sayangNya serta berupaya mencegah perilaku rendah dan nista yang menyebabkan mereka menerima murka dan adzab.

Antara “rumah” dan “mimbar” ada “taman surga”.

Semoga kita mampu mewujudkan kerinduan kita bisa berkunjung secara nyata ke sana. Amin ya rabbal alamin. (has)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *