Perbedaan Dalam Bingkai Ukhuwah

Oleh : Ma’arif Fuadi, MA**

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia, karena kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas[1] menyebabkan Indonesia menjadi negara  yang multi etnis, multi ras, multi budaya dan multi agama. Wilayahnya yang luas yang terdiri dari ribuan pulau, keragaman budaya, suku, ras dan agama adalah sebuah kekayaan yang dimiliki bangsa ini. Keragaman kebudayaan oleh masyarakat lazim disebut multikultural.

Islam adalah agama universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui adanya keragaman latar belakang budaya dan kemajemukan. Multikultural dalam pandangan ajaran Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Setiap orang akan menghadapi kemajemukan di manapun dan dalam hal apapun.[2] Islam sangat mengakui dan menghargai perbedaan dan mengajarkan setiap individu untuk hidup bersama dan saling menghormati satu dengan yang lainnya.

Allah SWT. menciptakan manusia dengan bermacam-macam perbedaan supaya bisa saling berinteraksi mengenal antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan bangsa dan suku tentu akan melahirkan bermacam budaya yang ada di masyarakat yang menjadi kekayaan bangsa, namun jika perbedaan tidak dikelola dengan baik, maka akan menjadi masalah yang akan menimbulkan kerugian. Di satu sisi perbedaan yang terdapat di dalam kehidupan masyarakat dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik dan benar, namun di sisi lain jika perbedaan tidak dikelola dan dijaga dengan baik dan benar,  maka akan menjadi faktor penyebab disintegrasi bangsa dan konflik yang berkepanjangan.

Kira-kira 15 tahun yang lalu negara-negara muslim yang disebut-sebut akan menjadi negara maju, makmur, tumbuh ekonominya dan stabil politiknya adalah Turki, Indonesia dan Pakistan. Tapi sekarang ini kita dapat melihat bahwa Turki dan Pakistan dilanda kekacauan dan konflik yang terus menerus terjadi. Keadaan menyedihkan juga terjadi di negara-negara muslim yang lainnya seperti Libya, Yaman, Irak dan Syiria yang sampai saat ini peperangan dan kekacauan masih terus berlangsung. Hanya Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim yang secara umum dalam keadaan aman, tidak bergejolak dan tidak kacau karena sampai saat ini masih dapat menjaga persatuan dan kesatuan.

Pesan Moral Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam diturunkan oleh Allah swt kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad saw  untuk menjadi petunjuk agar manusia memperoleh kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat melalui jalan yang ditunjuki-Nya. Sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ

Artinya : Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). (Surat Al-Baqarah ayat 185).[3]

Dan firman Allah :

الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

Artinya : Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji. (Surat Ibrahim ayat 1).[4]

Sebagai sebuah kitab petunjuk yang universal Al-Qur’an memuat ayat-ayat yang berisi pedoman-pedoman dan pokok-pokok peraturan yang sangat dibutuhkan manusia untuk mengatur kehidupannya, baik yang berhubungan dengan keimanan, maupun peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku dan tata cara hidup manusia baik secara personal maupun komunal. Dari sekian banyak petunjuk yang terdapat di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berisi pesan-pesan yang seharusnya menjadi pedoman bagi umat manusia terhadap upaya menjaga kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan yang multikultural. Diantara pesan –pesan tersebut adalah :

1.  Al Qur’an menyatakan bahwa manusia diciptakan dari asal yang sama. Sebagaimana dijelaskan di dalam surat al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami  jadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku agar  kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha mengetahui, Maha teliti.[5]

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari asal yang sama sebagai keturunan Adam dan Hawa yang tercipta dari tanah. Seluruh manusia sama di hadapan Allah, manusia menjadi mulia bukan karena suku, warna kulit ataupun jenis kelamin melainkan karena ketaqwaannya. Kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Tujuan penciptaan semacam itu bukan untuk saling menjatuhkan, menghujat, dan bersombong-sombongan melainkan agar masing-masing saling kenal-mengenal untuk menumbuhkan rasa saling menghormati dan semangat saling tolong-menolong. Dari paparan ayat ini dapat di pahami bahwa agama Islam secara normatif telah menguraikan tentang kesetaraan dalam bermasyarakat yang tidak mendiskriminasikan kelompok lain.

2. Al-Qur’an menyatakan bahwa dulu manusia adalah umat yang satu. Saat timbul perselisihan, Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang berisi petunjuk, untuk memberikan keputusan yang benar dan lurus diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Sebagaimana dijelaskan di dalam Surat al-Baqarah ayat 213 yang berbunyi:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلاَّ الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَاجَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَن يَشَآءُ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.[6]

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa sumber perselisihan, permusuhan dan perpecahan di kalangan umat beragama adalah  bukan karena ajaran agama yang dianutnya melainkan karena rasa dengki yang membuat mereka mengabaikan ajaran agamanya masing-masing. Seandainya mereka menghilangkan rasa dengkinya dan murni mengamalkan ajaran agamanya, niscaya tidak terjadi perslisihan semacam itu. Karena, tiap-tiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menjadi manusia-manusia yang baik dan menghargai orang lain.

3. Al-Qur’an menekankan akan pentingnya saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain, menjauhi buruk sangka dan mencari kesalahan orang lain. Sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.[7]

4. Ketika menghadapi permasalahan,  Al-Qur’an mengajarkan untuk selalu mengedepankan klarifikasi, dialog, diskusi, dan musyawarah. Tidak boleh menjatuhkan vonis tanpa mengetahui dengan jelas permasalahannya. Sebagaimana dijelaskan dalam surat  al-Hujurat ayat 6 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.[8]

5. Al-Qur’an mengajarkan untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, Sebagaimana dijelaskan dalam surat  al-Baqarah  ayat 256 yang berbunyi :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya : Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.[9]

6.  Al-qur’an menekankan untuk menghindari konflik dan melaksanakan rekonsiliasi atas berbagai persoalan yang terjadi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan. Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal. Dalam ajaran Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian, cinta damai dan memberi rasa aman bagi seluruh makhluk. Juga secara tegas al-Qur’an menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing kearah kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja dengan prinsip kasih sayang. Hal tersebut terdapat dalam Surat asy-Syuura  ayat 40 yang berbunyi :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik(2) Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.[10]

Pesan Moral Nabi Muhammad saw

1.  Hadits Nabi Muhammad saw menyatakan semua hamba Allah bersaudara. Seperti yang dijelaskan dalam hadits di bawah ini :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إياكم والظن فإن الظن أكذب الحديث ولا تحسسوا
ولا تجسسوا ولا تحاسدوا ولا تدابروا ولا تباغضوا ، وكونوا عباد الله إخوانا

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW bersabda: Takutlah kalian terhadap persangkaan buruk, sesungguhnya prasangka buruk adalah seburuk-buruknya pemberitaan dan janganlah kalian mencari aib orang lain, mendengki, membenci dan saling bermusuhan. Dan jadilah hamba Allah yang saling bersaudara.[12]

2.  Hadits Nabi Muhammad saw menyatakan  tidak ada keutamaan dari orang Arab dengan bukan orang Arab. Semua suku bangsa baik Asia, Eropa, ameriaka, Kulit Putih atau kulit Hitam semuanya sama dihadapan Allah swt.

قال رسول الله يا أيها الناس ألا إن ربكم واحد و إن أباكم واحد ألا لا فضل لعربي على أعجمي و لا أعجمي على عربي و لا لأحمر على أسود ولا أسود على أحمر إلا بالتقوى (رواه أحمد)

Artinya : Wahai manusia sekalian, ketahuilah bahwa Tuhan kalian satu, bapak kalian juga satu, ketahuilah tidak ada keutamaan dari orang arab terhadap non arab, dan juga tidak ada keutamaan orang non arab dari orang arab kecuali ketakwaannya. (HR. Imam Ahmad).

3. Hadits Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa agama yang dicintai Allah adalah agama yang lurus dan toleran.

حَدَّثَنِا عبد الله حدثنى أبى حدثنى يَزِيدُ قَالَ أنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ اْلأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ.[13]

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Abdillah, telah menceritakan kepada saya Abi telah menceritakan kepada saya Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah saw. “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: “Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)”[13]

4. Hadits Nabi Muhammad saw mengajarkan untuk menciptakan perdamaian dan rasa aman bagi kehidupan seluruh umat manusia tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar golongan.

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ آذَى ذِمِّيًّا فَأَنَا خَصْمُهُ وَمَنْ كُنْتُ خَصْمَهُ خَصَمْتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ(أَخْرَجَهُ الخَطِيبُ)

Artinya : Dari Ibnu Mas’ud ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyakiti seorang kafir dzimmi, maka aku kelak yang akan menjadi musuhnya. Dan siapa yang menjadikanku sebagai musuhnya, maka aku akan menuntutnya pada hari kiamat.”

5. Hadits Nabi Muhammad saw mengajarkan untuk menjalin komunikasi meskipun dengan non muslim.

إذا سلم عليكم أحد من أهل الكتاب فقولوا : و عليكم (رواه الترمذي و إبن مجه).

Artinya, “Apabila salah seorang ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah denan ‘Wa’alaikum’.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

6. Hadits Nabi Muhammad saw mengajarkan untuk bersikap adil dengan memberikan hak secara proporsional.

يقول الله تعالى : يا عبادي! إني حرمت الظلم على نفسي و جعلته بينكم محرما فلا تظالموا (رواه مسلم)

Artinya : Allah SWT. berfirman “Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya aku telah mengharamkan kedhaliman terhadap diriku sendiri, dan aku telah menjadikannya haram pula di antara kalian, maka janganlah saling mendhalimi.” (HR. Muslim)

Dari beberapa ayat Al-Quran dan Hadits nabi di atas dapat dipahami bahwa Multikulturalisme pada dasarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Keanekaragaman yang ada bukan sebuah permasalahan namun justru menjadi suatu kekayaan yang bisa saling melengkapi dalam membangun peradaban masyarakat.

Penutup

Dari paparan di atas dapat  dipahami bahwa Islam secara normatif telah menguraikan tentang kesetaraan dalam bermasyarakat yang tidak mendiskriminasikan kelompok lain. Agama Islam memandang segala perbedaan tersebut sebagai sebuah anugrah Tuhan yang begitu besar yang harus di syukuri. Dalam pandangan Islam masyarakat memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada yang merasa paling hebat atau paling kuat dari yang lain. Mereka juga memiliki hak dan kewajiban yang sama baik dalam bidang sosial, politik maupun hukum. Islam mengajarkan suatu konsep bahwa perbedaan seharusnya membuat umat manusia bisa saling melengkapi antara satu umat dan umat lainnya bukan malah menjadi faktor yang menjadi penyebab perselisihan.
______________________
* Penulis adalah Sekretaris Umum MUI Kota administrasi Jakarta Timur dan anggota Komisi   Dakwah MUI Provinsi DKI Jakarta.

Catatan kaki:

[1]Ainul Yaqin, Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan, cet. ke-1 (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), hlm. 4.

[2]Mundzier Suparta, Islamic Multicultural Education: Sebuah Refleksi atas Pendidikan Agama Islam di Indonesia, cet. ke-1 (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), hlm. 5.

[3]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya : Pustaka Agung Harapan 2006), hlm. 35

[4]ibid, hlm. 345

[5]ibid, hlm. 345

[6]ibid, hlm. 745

[7]ibid, hlm.745

[8]ibid, hlm.743

[9]ibid, hlm. 53

[10]ibid, hlm. 699

[11] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

[12]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Kitab Adab, No 5604 dan 5606.  Imam Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Bir, wa ash-Shillah wa al-Adab, No 4646.

[13] Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalany, Fath al-Bary, (Cet. I; Madinah al-Munawarah, 1417 H / 1996 M), Jilid. I, h. 94.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *