Ngaji Selasa Pagi 18 Oktober 2016 MUI Kota Jakarta Timur

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Pengajian Rutin MUI Kota Administrasi Jakarta Timur, Kajian Kitab Al-Mizaanul Kubro (Karangan Abdul Wahab Asy-Sya’roni), Kitab Ihya Ulumiddin (Karangan Imam Gozali) dan Kitab Mishbaahuz-Zholaam (Karangan KH. Muhajirin)  yang di asuh oleh KH. A. Zarkasyi Saiman, KH. Ahamad Rais, LC dan KH. Fachrudin, MA.

Pengajian ini berlangsung tanggal 18 Oktober 2016 Ba’da Shubuh di Masjid Jami Shodri Asshiddiq, samping Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Timur, membahas masalah Perseselisihan dalam mengingatkan imam.

Ada beberapa petikan pelajaran dari pengajian kali ini, diantaranya :

  • Kalau imam shalat melakukan kesalahan, maka makmum mengingatkan dengan ucapan “subhanallah”;
  • Untuk mengingatkan orang yang mau lewat di depan imam atau orang yang sedang shalat adalah dengan menjulurkan tangan;
  • Dosa orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat sangat besar, kecuali jika yang shalat sembarangan tempat tanpa membuat pengahalang (sutrah), terutama shalat yang dikerjakan adalah shalat sunnah, maka tidak mengapa. Dan bisa jadi yang berdosa adalah yang shalat.
  • Jika imam salah, maka yang memberi peringatan, tasbihnya menjadi dzikir dan berpahala. Sebaliknya jika qoshodnya lain, umpama karena ngantuk terus kaget mengucap subhanallah, maka shalatnya menjadi batal.
  • Perkara yang sunah dalam shalat seperti qunut atau tasyahud awal, ketika lupa, maka harus dilihat posisi imam. Kalau imam lupa qunut dan posisi imam sudah sampai pada sujud atau imam lupa tasyahud awal dan posisi imam sudah dalam keadaan berdiri, maka tidak perlu diingatkan agar kembali lagi memperbaiki kesalahan. Yang demikian teruskan saja. Sebagai gantinya bisa dengan sujud sahwi.
  • Shalatnya orang yang masuk golongan akabir, jika hatinya mengingat kepada selain Allah, menurut imam Abu Hanifah shalatnya batal.***Has.

Berikut rekaman videonya :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *