Pengajian Rutin MUI Jakarta Timur Selasa 31 Januari 2017

Pengajian Rutin MUI Kota Administrasi Jakarta Timur, Selasa, 31 Januari 2017 di isi oleh KH. Zarkasyi Saiman, KH. Fakhruddin, MA dan KH. M. Rais, Lc. dengan Kajian Kitab Al-Mizanul Kubro (karangan Abdul Wahab Asy-Sya’roni), Kitab Mishbahuz-Zholam (karangan KH. Muhajirin Amsar) dan Kitab Ihya Ulumiddin (karangan Imam Gozali).

Pembahasan Kitab Al-Mizanul Kubro sudah sampai pada Bab Sujud Sahwi. Kitab Mishbahuz-Zholam masuk bab Janazah dan Kitab Ihya Ulumiddin membahas Fadhilah Wudhu.

Berikut petikan pelajaran yang bisa saya catat :

  1. Mengenai sujud sahwi ada banyak pendapat, apakah dilakukan sebelum salam atau sesudah salam. Yang paling logis menurut Imam Syafi’I dari dua pendapat itu adalah dilakukan sebelum salam.
  2. Menurut Imam Malik, sujud sahwi itu menjadi wajib bila rukunnya kurang atau terlupakan dan sebaliknya menjadi sunnah bila yang tertinggal adalah hal-hal yang sunnah dalam shalat.
  3. Tujuan sujud sahwi adalah sebagai tambalan, yaitu menambal yang kurang karena lupa atau lalai.
  4. Maqomnya orang awam seringkali bilangan rakaatnya ia lupa. Ini menunjukkan tinggkat kekhusukannya rendah dan bahkan tak ada.
  5. Terkait perbedaan pendapat sebelum atau sesudah salam, Imam Hasan Basri ia berkata bahwa apabila ada kekurangan atau ragu terhadap bilangan rakaat, maka ia melakukan sujud sahwi sebelum salam.
  6. Bacaan sujud sahwi : سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنَامُ وَ لاَ يَسْهُوْا = Maha suci Allah yang tidak pernah tidur dan tidak pernah lupa.
  7. Kemudian bacaan duduk di antara dua sujud pada sujud sahwi sama dengan bacaan pada saat shalat dan sunah-sunahnya.
  8. Menurut Imam Awzai, kapan ia ragu pada shalatnya, maka batal shalatnya. Ini termasuk musyaddad (berat).
  9. Bila keraguan bilangan rakaat terjadi di luar shalat, ia lupa atau ragu bilangan rakaatnya, maka tidak masalah. Tak perlu mengulang shalatnya atau balik sujud sahwi.
  10. Pengertian Jenazah adalah peti atau keranda/kurung batang yang sudah ada mayyitnya. Sedang Mayyit adalah jasad atau fisik seseorang yang telah meninggal belum dimasukkan ke dapalam peti mati atau keranda.
  11. Dalam shalat janazah tidak ada rukuk dan sujud. Karenanya shalat janazah dikategorikan sebagai doa dan sebagian ulama membolehkan tidak berwudhu melakukannya.
  12. Tidak boleh mengharapkan kematian sekalipun ia sedang mengalami kesulitan yang sangat berat. Maka hendaklah ia berdoa : اَللَّهُمَّ اَحْيِِنِيْ مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي مَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي. متفق عليه
  13. Sesungguhnya kebaikan adalah apa yang diberikan Allah sebagaimana firmanNya فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (QS. AnNisa : 19)
  14. Hendaklah banyak-banyak membaca doa : اَللَّهُمَّ اجْعَلْ حَيَاتِي زِيَادَةً لِكُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ مَمَاتِي رَاحَةً مِنْ كُلِّ شَرٍّ
  15. Kehidupan itu awalnya tawakkal kemudian usaha atau ikhtiar dan akhirnya juga tawakkal (basmallah – usaha/ikhtiar – hamdalalah). Ukuran tawakkal itu hanya Allah yang tau karena bisa jadi seseorang merasa telah bertawakkal dengan baik, tapi sebenarnya belum, atau sebaliknya.
  16. Ketika ada seseorang yang mengeluh dan merintih atas segala derita, itu belum tentu dianggap sebuah keputusasaan. Sebab Rasul dan nabi pun pernah merasakan hal seperti itu karena itu adalah sifat manusiawi.
  17. Ketika umat nabi Muhammada saw merasakan sakaratul maut hingga keningnya berkeringat menahan sakitnya ketika mengehmbuskan nafas terakhir, itu bisa menjadi ampunan baginya. Tanda berkeringat di kening ini insyaallah menjadi tanda seseorang husnul khatimah atau sebagai tanda sudah tiada.

Selengkapnya bisa disimak dalam rekaman video berikut ini :

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *