Ngaji Bulanan Selasa Pagi 8 Nop 2016 Bersama KH. A. Syarifudin A. Ghani

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Pengajian Rutin Bulanan Selasa Pagi minggu pertama, Kajian Kitab Al-Muaththo buah karya Malik Bin Anas di asuh oleh KH. Syarifudin Abdul Ghoni, Ketua MUI Provinsi DKI Jimg-20161004-wa0009akarta.

Pengajian ini berlangsung tanggal 8 Nopember 2016 Ba’da Shubuh di Masjid Jami Shodri Asshiddiq, depan Kantor Walikota Jakarta Timur, membahas Hadits Nomor 37-52.

Ada beberapa petikan pelajaran dalam pengajian kali ini, di antaranya :

  1. Shalat awal waktu itu sangat diutamakan, sekalipun sedang ngobrol bersama Rasul.
  2. Untuk Shalat Maghrib, kisaran waktunya, menurut Qoul Jadid, antara kebutuhan berwudhu, kemudian berpakaian dan selanjutnya Shalat Maghrib. Sedang menurut Qoul Qodim yaitu antara adzan masuk waktu hingga habis menga mendung.
  3. Mengenai kata ‘sayyidina‘ dalam tasyahud, yang pakai namanya muroatul adab, sedang yang tidak pakai, imtitsalul awamiri.
  4. Andai ada makmum yang lebih alim dari imam, bukan berarti bahwa yang menjadi imam tidak sopan (songong). Malah menjadi bagus bila ada kesalahan ada yang mengingatkannya.
  5. Kealfaan meninggalkan sunnah hai’at tidak perlu di ulang dalam shalat
  6. Shalat janazah, lebih diutaman berwudhu. Jika tidak, juga ada yang membolehkan.
  7. Dalam berwudhu ada keinganan boleh menyapu sepatu atau kaos kaki pada saat berwudhu dengan syarat : ketika memakai kaos kaki ia sudah berwudhu, kaos kaki harus menutup bagian kaki yang wajib di basuh.
  8. Dalam menyapu kaos kaki, yang wajib adalah menyapu bagian atasnya. Tapi lebih afdhol jika atas bawah di sapu.
  9. Jika berwudhu dengan menyapu kaos kaki, maka shalatnya pun harus menggunakan kaos kaki. Ketika kaos kaki di buka, maka shalatnya tidak sah karena wudhunya harus sempurna.
  10. Gerakan-gerakan yang dilakukan selama masih dalam pekerjaan shalat, maka shalatnya tidak batal. Kecuali berbicara.

Berikut rekaman videonya :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *