Ngaji Bulanan Selasa Pagi 6 Des 2016 Bersama KH. Syarifuddin Abdul Ghani

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Pengajian Rutin Bulanan Selasa Pagi Minggu Pertama, Kajian Kitab Al-Muaththo buah karya Malik Bin Anas bersama KH. Syarifudin Abdul Ghoni, Ketua MUI Provinsi DKI Jakarta.

Pengajian ini berlangsung tanggal 6 Desemeber 2016 Ba’da Shubuh di Masjid Jami Shodri Asshiddiq, Jl. Dr. Sumarno (Samping Gedung Pengadilan Negeri) Jakarta Timur.

Pada Pengajian kali ini membahas Hadits Nomor 53-57 tentang berwudhu karena keluar madzi dan Hadits Nomor 58-63  tentang wajib berwudhu karena menyentuh dzakar atau perempuan.

Ada beberapa petikan pelajaran dalam pengajian kali ini, di antaranya :

  1. Keluar madzi dapat membatalkan wudhu, sesuai sabda Rasul, “Apabila seseorang keluar madzi maka harus/wajib di guyur hingga pangkal batang dzakar” (lihat Hadits No. 53). Bersuci karena madzi tidak bisa menggunakan batu atau lainnya kecuali dengan air.
  2. Ada pendapat lain yang meringankan soal madzi bagi orang yang salisul madzi, maka wudhu dan shalatnya tidak batal sekalipun madzi itu menetes atau mengalir (Hadits No. 56). Akan tetapi ini bukan berarti merubah hukum madzi yang membatalkan wudhu.
  3. Ketika terjadi waswas karena kencing susah tiris/tidak tuntas, cara menghilangkannya cukup dengan mencipratkan air ke celana dalam (cd).
  4. Dalam keadaan berwudhu kemudian menyentuh kemaluan (dzakar) dengan tapak tangan membatalkan wudhu. Jika yang tersentuh hanya buah dzakar, tak mengapa.
  5. Untuk wanita, menyentuh bagian ditumbuhi bulu kemaluan tak membatalkan wudhu, kecuali menyentuh bagian Mis V.
  6. Hadits No. 59 menerangkan bahwa menyentuh dzakar baik sengaja atau tidak tetap membatalkan wudhu.
  7. Jika imam merasa shalatnya tidak sah setelah ia mengetahui keluar sesuatu (madzi) setelah shalat, kemudian si imam memberi tahu jamaah bahwa ia shalatnya tak sah, maka shalat si ma’mum, jika ia masbuk wajib qodha.
  8. Wudhu si mayyit tidak batal walau tersentuh oleh siapapun. Karenanya dipersilahkan bagi pasangan hidupnya boleh mencium sebagai penghormatan terakhir.
  9. Sesuadah berwudhu menyentuh atau mencium perempuan, maka wudhunya batal, sedang yang tersentuh/tercium tidak batal.
  10. Menyentuh perempuan, ukurannya bukan aqil baligh. Karenanya menyentuh anak kecil juga bisa membatalkan wudhu.

Berikut rekaman videonya :

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *