Ngaji Bulanan Selasa Pagi 4 Oktober 2016 Bersama KH. A. Syarifudin Abdul Ghani

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Pengajian Rutin Bulanan Selasa Pagi minggu pertama, Kajian Kitab Al-Muaththo buah karya Malik Bin Anas di asuh oleh KH. Syarifudin Abdul Ghoni, Ketua MUI Provinsi DKI Jimg-20161004-wa0009akarta.

Pengajian ini berlangsung tanggal 4 Oktober 2016 Ba’da Shubuh di Masjid Jami Shodri Asshiddiq, depan Kantor Walikota Jakarta Timur, membahas Hadits Nomor 27-36.

Ada beberapa petikan pelajaran dalam pengajian kali ini, di antaranya :

  • Wudhu yang sempurna mengampuni dosa-dosa kecil yang telah lalu. Bagi mereka yang tidak memiliki dosa-dosa kecil, Allah akan memuliakan atau akan mengangkat derajatnya.
  • Suatu perbuatan ma’siat yang tidak diniatkan, hukumnya termasuk dosa kecil. Tapi bila diniatkan, maka menjadi dosa besar.
  • ….
  • Setiap langkah kaki menuju masjid dengan keadaan berwudhu, maka langkah kaki kiri itu mendapat ampunan dosa, dan langkah kaki kanan akan mengangkat derajatnya.
  • Dalam keadaan tidak ada debu/tanah, maka sabun bisa dijadikan pengganti untuk membersihkan najis besar.
  • Sesuatu yang kita tidak tahu alasannya, seperti ketika kita batal wudhu karena buang angin, kemudian yang di basuh pada saat hendak berwudhu bukan lubang dubur tempat keluar angin tersebut, ini disebut ‘litaabbud‘, karena Allah memang memerintahkan demikian.
  • Dalam khutbah jum’at, ketika khatib tidak membaca ‘اوصيكم ونفسي بتقوى الله …’, sekiranya isi khutbah ada ajakan berbuat baik, maka khutbahnya sah.
  • Istiqomah itu sulit nerapkannya, maka perlu di latih.
  • Ayam kukuruyuk itu karena ayam melihat malaikat. Maka berdoalah agar malaikat mengaminkan.
  • Begitu pula banyak orang yang berdoa di kuburan, bukan karena kuburan lebih mulia, tapi karena banyak malaikat sehingga doa-doa tersebut diaminkan oleh para malaikat dan makbul.
  • Sesuatu itu jangan hanya di lihat karena niat. Kalau salah atau di larang tetap saja tidak boleh. Umpama berjudi, kalau menang ingin membangun masjid atau madrasah, ya tidak boleh.
  • Kalau ada orang berbuat dosa jangan langsung di kasih tahu, diam saja. Jika ia lakukan karena tidak tahu, maka ia dimaklumi. Kalaupun dosa, maka dosanya kecil.
  • Cinta tidak bisa di bagi rata. Sedang harta atau yang lainnya bisa. Karena itu, kebanyakan wanita tidak mau diduakan, sehingga istri Nabi pun bisa saling cemburu. Dan lelaki beristri lebih dari satu, ia meninggal di rumah istri yang paling dicintainya, seperti Rasul meninggal di rumah Aisyah.
  • Patung/boneka yang untuk mainan anak itu dibolehkan. Tapi jika anak sudah besar dan tidak memainkannya lagi, kemudian dijadikan pajangan, itu tidak boleh. Malaikat tidak mau masuk rumah yang ada patung atau bonekanya.
  • Foto, walaupun punya kenangan terindah, sebaiknya (pula) jangan di pajang. Karena Malaikat tidak mau memasuki rumah yang demikian.
  • Tidak boleh menggunakan barang-barang yang terbuat dari emas, termasuk berteduh di tempat yang atap atau kubahnya terbuat dari emas, seperti berteduh di Monas atau di Masjid Kubah Mas. ***Has

Berikut rekaman videonya :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *