NASEHAT PERKAWINAN

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Pandangan dan tuntunan Nabi Muhammad saw menyangkut perkawinan pernah disampaikan ketika beliau menyampaikan khutbah nikah pada saat mengawinkan Sayyidatina Fathimah ra dengan Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra. Nabi saw berkhutbah memberi pesan sebagai berikut :

الحمد لله المحمود بنعمته المعبود بقدرته المطاع لسلطانه المهروب اليه من عذابه النافذ امره فى ارضه وسمائه. الذى خلق الخلق بقدرته ونيرهم باحكام هواعزهم بدينه واكرمهم بنبيه محمد صلى الله عليه وسلم

ثم ان الله عز وجل جعل المصاهرة نسبا لاحقا وامرا مفترضا وحكما عادلا وخيرا جامعا ….. اوشج بها الارحام و ألزمها الانام فقال عز وجل : [وهو الذى خلق من الماء بشرا فجعله نسبا و صهرا، وكان ربك قديرا]

امر الله يجرى الى قضائه وقضاؤه يجرى الى قدره و [لكل اجل كتاب. يمحوا الله ما يشاء ويثبت، وعنده ام الكتب]

“Segala puji bagi Allah, yang terpuji karena curahan nikmatNya, disembah karena kudrat kuasaNya, yang ditaati karena kekuasaan kerajaanNya, yang dihindari siksaNya dengan menuju (mendekat) kepadaNya. Dialah yang menerangi jalan manusia dengan ketetapan-ketetapan hukumNya, Dia pula yang mengukuhkan mereka dengan agamaNya, serta memuliakan mereka dengan kehadiran nabiNya, Muhammad saw.

Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia telah menjadikan perkawinan sebagai sarana perolehan keturunan. Itu dijadikannya jalan yang wajib, ketetapan hukum yang adil, serta dijadikanNya sarana perolehan kewajiban yang sempurna. …… Dengan perkawinan Allah memperkukuh tali kekerabatan, lalu itu semua diwajibkanNya kepada putra Adam. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia berfirman : [“Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikannya berpotensi memiliki keturunan dan menjalin ikatan per-ipar-an dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.”] (QS. AlFurqon[25]: 54)

Semua urusan Allah mengalir menuju QodhoNya, dan QodhoNya mengalir menuju takdirNya. Segala sesuatu ada batas waktunya, dan [setiap batas waktu termaktub dalam kitabNya, Allah menghapus yang Dia kehendaki dan Dia juga menetapkan apa yang Dia kehendaki, namun di sisi Allah ada Induk al-Kitab, yakni pengetahuan Yang Maha Luas dan yang tidak pernah berubah.]”

Dalam khutbah yang demikian singkat di atas, berulang kali Nabi saw mengingatkan –secara tersurat dan tersirat– tentang kudrat kuasa Allah. KuasaNya itu bukan hanya dalam ketentuan-ketentuan agama yang harus ditaati, baik dalam memilih calon pasangan maupun dalam proses ijab dan qobul, tetapi juga kuasaNya menetapkan sistem yang dapat melahirkan kelanggengan perkawinan atau kegagalannya, bahkan kuasaNya menjalin cinta antar manusia.

Tiada sesuatu pun yang terjadi di alam raya ini yang luput dari kuasa dan urusan Allah, dan semua itu mengalir kepada QodhoNya, yakni pengetahuan dan ketetapanNya yang menyeluruh sejak azali menyangkut segala sesuatu, hingga akhir zaman. Lalu, ini pun mengalir dengan adanya takdir, yakni ketetapan berupa sistem menyangkut batas, kadar dan dampak baik atau buruk menyangkut rincian sesuatu, termasuk juga waktu dan tempatnya. Itulah antara lain, yang di maksud dengan sabda beliau “Semua urusan Allah mengalir menuju QodhoNya dan QodhoNya mengalir menuju takdirNya.”

Dalam urusan perkawinan, ada sistem yang ditetapkanNya. Ia bisa langgeng dan bahagia, bila pasangan bersangkutan mengikuti sistem yang ditetapkanNya untuk kelanggengan dan kebahagiaannya. Dan sebaliknya, perkawinan akan gagal, bila ada langkah yang kadarnya dalam sistem yang ditempatkanNya itu melahirkan dampak kegagalan. Itulah sebagian yang dimaksud oleh ucapan Nabi saw: “Segala sesuatu ada batas waktunya, dan setiap batas waktu termaktub dalam kitabNya.” Keduanya –kelanggengan dan kegagalan– tidak keluar dari sistem yang telah ditetapkanNya dalam takdirNya. Manusia dipersilahkan memilih dan menelusuri jalan-jalan yang tersedia.

Kendati demikian akhir sabda beliau di atas mengingatkan pula bahwa walaupun sudah ada sistem yang ditetapkanNya, tetapi atas rahmat karuniaNya, Dia masih dapat mengubah ketetapanNya, karena itu dalam pesan di atas Rasul saw, melanjutkan dengan membaca firman Allah dalam QS Ar Ra’du ayat 39 : “Allah menghapus yang Dia kehendaki dan Dia juga menetapkan apa yang Dia kehendaki, namun di sisi Allah ada Induk alKitab,” yakni Pengetahuan Yang Maha Luas dan yang tidak pernah berubah. Allah menghapus kalau ada kesungguhan berdoa setelah upaya maksimal yang belum melahirkan hasil yang didambakan. Karena itu setiap orang di tuntut untuk berusaha sambil berdoa, agar Allah menetapkan yang terbaik untuknya.

M. Quraish Shihab

Sumber : Pengantin Al Qur’an, Kalung Permata Buat Anak-Anakku

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *