MUI Jakarta Timur Gelar Rapat Pleno

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Administrasi Jakarta Timur menggelar Rapat Pleno Dan Konsolidasi Pengurus tadi malam (16/01/19) di Gedung Aula Masjid Jami Shodri Asshiddiq, Jakarta.

Acara yang dihadiri oleh Ketua MUI Kota Administrasi Jakarta Timur, Drs. KH. A. Shodri HM, Kapolres Metro Jakarta Timur, KBP Ady Wibowo, SIk, MSi, Kodim 0505 yang diwakili oleh Mayor Kaveleri Luki Dibyanto,  Kapolsek Metro Cakung, Kompol Imam Irawan dan Pengurus MUI Kota dan MUI Kecamatan Se Kota Administrasi Jakarta Timur berjalan lancar.

IMAG1160
Pengurus MUI se Kota Administrasi Jakarta Timur sedang mengikuti Rapat Pleno secara lesehan

Dalam sambutannya, Kapolrestro Jakarta Timur mengatakan bahwa Kekuatan Polri ada di masyarakat, khususnya para Ulama dan tokoh Agama. Sehingga sangat penting sinergitas Ulama dan Polri dibangun untuk menjaga Jakarta Timur tetap aman dan nyaman.

Mendekati Pesta demokrasi 2019, lanjut KBP Ady Wibowo, ia memohon dukungan para ulama untuk selalu mendinginkan suasana para jamaahnya agar tetap menjaga kerukunan umat. Di akhir sambutan beliau meminta kepada para Kiai dan Ulama agar dirinya bisa diterima yang belum sebulan bekerja di wilayah polrestro Jakarta Timur. “Kalau dekat dengan Ulama, kerja dan pengabdian polisi akan menjadi berkah“, begitu ujarnya dan diaminkan para kiai yang hadir.

Sementara itu Drs. KH. A. Shodri, selaku Ketua Umum MUI Kota Administrasi Jakarta Timur menyambut baik upaya Kapolres yang baru mau dekat dan mau bersinergi kepada Ulama, khususnya Ulama yang ada di MUI se Jakarta Timur.

Dalam sambutannya sebelum Rapat Pleno dimulai, Drs. KH. A. Shodri HM memberikan arahan bahwa masalah-masalah aktual saat ini seperti soal kebangsaan dan kemanusiaan perlu disikapi oleh pengurus MUI. MUI Cakung beberapa hari yang lalu sudah melaksanakan programnya melalui kegiatan sunatan massal. Kecamatan lain juga perlu membuat program serupa.

Kedepan, lanjut Kiai Shodri, begitu biasa ia dipanggil, MUI banyak menghadapi tantangan, khususnya tantangan politik. Pengurus MUI boleh berpolitik, tapi politik yang elegan.

Pengurus MUI jangan sekali-kali menjelekkan Ulama kelompok yang bersebrangan. Hindari ujaran kebencian apalagi menggugatnya. Jangan pula ada upaya menjelekkan apalagi menyudutkan pendapat orang lain karena beda pilihan.

Pengurus MUI harus peka terhadap gerakan-gerakan yang merusak idiologi Negara hingga timbul kekisruhan dan perpecahan.

Terkait masalah politisasi agama, ia mengatakan bahwa sebenarnya masalah itu timbul karena kebodohan dan ketidak-fahaman. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara politik dan agama (hubungan keduanya semestinya mesra seperti orang yang sedang jatuh cinta).

Karenanya, Pengurus MUI se Jakarta Timur harus tampil di depan melawan segala upaya yang merusak aqidah, moral bangsa dan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara“, begitu ujarnya saat mengakhiri sambutannya.

Hasil-hasil keputusan Rapat Pleno

Rapat Peleno yang dipimpin oleh Sekretaris Umum, Drs. KH. Maarif Fuadi, MA mengahasilkan beberapa kesepakatan, diantaranya :

  1. MUI Kecamatan harus memiliki kegiatan yang bersentuhan langsung kepada umat
  2. Forum mengamanatkan untuk melakukan PAW bagi pengurus MUI Kota Jakarta Timur non aktif kepada Pengurus Harian MUI Kota Administrasi Jakarta Timur
  3. Dalam rangka merespon isu-isu yang saat ini sedang berkembang ditengah masyarakat menjelang pilpres dan pileg 2019 yang bertendensi pada perpecahan bangsa Indonesia seperti penyebaran berita hoax dan pemikiran transnasional yang bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia, maka MUI Kota Administrasi Jakarta Timur dan MUI Kecamatan se Kota Administrasi Jakarta Timur sebagai wadah ri’ayatul ummah (penjaga umat) pada tahun 2019 akan melaksanakan kegiatan pengajian setiap satu bulan sekali di wilayah kecamatan se Jakarta Timur untuk memberikan pemahaman wawasan keIslaman dan NKRI kepada warga masyarakat kota Administrasi Jakarta Timur. ***has

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *