MUI Galang Kerukunan Antar Warga

MIMG_20151130_104444-01UI KOTA JAKARTA TIMUR – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta menggelar Seminar Ukhuwah dengan thema, Menjadikan Etika Ukhuwah dan Adabul Ikhtilaf sebagai Penutup Pintu Perpecahan Umat Islam di Masjid Jiep Baitul Hamd, Kawasan Industri Pulo Gadung Jakarta Timur, Senin (30 Nopember 2015).

Dialog dalam seminar dilakukan atas dasar masih adanya masalah dan perbedaan-perbedaan yang terjadi di tengah masyarakat.

Masalah furu’iyah, sistem ekonomi, kaifiat ibadah, menentukan bulan Ramadhan dan Syawal, Qunut atau tidak qunut sampai perbedaan pandangan politik disinyalir menjadi akar permasalahan pertikaian. Namun mereka sepakat untuk menghadapi perbedaan dengan santun, damai dan penuh etika tanpa ada yang mengebiri hak orang lain.

“Bahwa perbedaan adalah rahmat, sikapi perbedaan itu dengan damai, rasa persatuan dan kebangsaan, tanpa ada perpecahan,” ujar Pengurus MUI DKI Jakarta, Dr. Sudirman Tamin.

Diakuinya, banyak permasalahan yang kerap muncul akhir-akhir ini di kalangan masyarakat, dari permasalahan kecil yang tidak seharusnya terjadi, sampai masalah besar yang berpotensi menimbulkan perpecahan antar umat. Karenanya, Sudirman menawarkar solusi dengan pemberdayaan zakat, infaq, shodaqoh yang dikelola secara profesional, bekerjasama dengan pihak swasta dan pemerintah, perpecahan bisa teratasi,” ungkapnya.

Menurut dia, potensi zakat di kalangan umat Islam sagatlah besar. Jika zakat di kelola dengan baik, dan tersalurkan dengan baik, maka jayalah umat Islam. Tapi karena kurangnya pemberdayaan dan penggalian potensi zakat yang tidak maksimal, perekonomian umat Islam jadi terbelakang.

“Tugas ormas Islam, MUI dan tokoh masyarakat adalah mempererat persaudaraan, mengajak kebaikan dan menjauhkan perpecahan,” ujar Sudirman.

Sementara itu, pengurus MUI Kota Jakarta Timur, KH. Anshori Ya’kub mengatakan, bahwa upaya pemerintah untuk terus menyelesaikan konflik yang terjadi di masyarakat terus dilakukan. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Dasar Negara Indonesia menjai pondasi dalam keragaman dan kebersamaan. “Karenanya wajib hukumnya sebagai warga negara untuk taat dan patuh terhadap aturan negara,” ujarnya.

Persatuan, kebersamaan dan kesadaran umat beragama untuk hidup rukun menjadi penting dilakukan di tengah masyarakat saat ini. Perpecahan tidak akan terjadi jikalau tidak ada masalah di antara umat beragma.

“Seperti, Ahmadiyah tidak lagi di anggap perbedaan, tapi sudah penyimpangan, namun kerena Ahmadiyah terus melakukan ritual, akhirnya konflik terjadi lagi, makanya hal-hal semacam inilah yang harus diluruskan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *