Mengenal Sejarah Dan Hukum Zakat Lebih Dekat

Oleh Abdul Muiz Ali

Sejarah Zakat Fitrah

Sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, Beliau SAW sudah 13 kali mengalami Ramadhan, yaitu dimulai dari Ramadhan tahun ke-41 hingga Ramadhan tahun ke-53 dari kelahirannya yang bertepatan dengan bulan April tahun 622 M. Akan tetapi selama waktu itu belum disyariatkan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah bagi kaum muslimin.

Setelah Nabi hijrah ke Madinah, dan menetap selama 17 bulan di sana, maka turunlah ayat 183-184 al-Baqarah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H, sebagai dasar disyariatkannya shaum bulan Ramadhan. Tidak lama dari itu, dalam bulan Ramadhan pada tahun itu mulai diwajibkan zakat kepada kaum muslimin, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Umar :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنْ الْمُسْلِمِينَ – رواه مسلم

Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah saw. telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang sebesar 1 sha’ kurma, atau 1 sha’ gandum, wajib atas orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, dari kaum muslimin” (HR. Muslim)

Syarat Wajib Zakat fitrah

1. Islam
2. Merdeka (bukan budak, hamba sahaya)
3. Mempunyai kelebihan makanan atau harta dari yang diperlukan di Hari Raya dan malam hari raya.
4. Menemui waktu wajib mengeluarkan zakat fitrah. Artinya masih menemui sebagian dari bulan Ramadhan dan sebagian dari awalnya bulan Syawwal.

Jenis Dan Kadar Zakat Fitrah

1. Berupa bahan makanan pokok daerah tersebut
2. Sejenis. Tidak boleh campuran
3. Jumlahnya mencapai satu Sho’ untuk setiap orang. ( 1 Sho’ = 4 mud = kurang lebih 3 Kilogram )
4. Diberikan di tempat atau daerah orang yang mau mengeluarkan zakat atau orang yang mau dizakati.

Menurut Imam Abu Hanifah, zakat fitrah boleh dikeluarkan dalam bentuk qimah atau uang.

Waktu Pelaksanaan Mengeluarkan Zakat Fitrah

1. Waktu wajib, yaitu ketika menemui bulan Ramadhan dan menemui sebagian awalnya bulan Syawwal.
2. Waktu jawaz (boleh). Yaitu sejak awal bulan Ramadhan sampai memasuki waktu wajib.
3. Waktu Fadhilah (utama). Yaitu setelah terbit fajar dan sebelum sholat hari raya.
4. Waktu makruh (sah tapi tidak baik). Yaitu setelah sholat hari raya sampai menjelang tenggelamnya matahari pada tanggal 1 Syawwal.
5. Waktu haram. Yaitu setelah tenggelamnya matahari tanggal 1 Syawwal kecuali jika ada udzur seperti hartanya tidak ada ditempat tersebut atau menunggu orang yang berhak menerima zakat, maka hukumnya tidak haram.

Syarat dan Sahnya Zakat

1. Niat.
Niat dalam hati ketika mengeluarkan zakat.
Contoh Niat zakat untuk diri sendiri :

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِ عَنْ نَفْسِي / هَذَا زَكاَةُ مَالِي اْلمَفْرُوْضَةْ

” Saya niat mengeluarkan zakat untuk diriku atau ini adalah zakat harta wajibku “

Contoh Niat Zakat Atas Nama Anaknya;

نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِ عَنْ وَلَدِي الصَّغِيْرِ

(sebutin namanya jika perlu)

“Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang masih kecil” (sebutin namanya)

Contoh Niat Zakat Atas Nama Ayahnya;

 نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِ عَنْ اَبِي

.. (sebutin namanya)

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ayahku (sebutin namanya)”

Contoh Niat Zakat Fitrah Atas Nama Ibunya :

  نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِ عَنْ اُمِّي…

(Sebutin namanya)

“ Saya niat mengeluarkan zakat atas nama ibuku… (sebutin namanya)

Contoh Niat Zakat Atas Nama Anaknya yang Sudah Besar dan Tidak Mampu;

 نَوَيْتُ اَنْ اُخْرِجَ زَكاَةَ اْلفِطْرِ عَنْ وَلَدِي اْلكَبِيْرِ…..

(Sebutin namanya)

“Saya niat mengeluarkan zakat atas nama anakku yang sudah besar…” (Sebutin namanya)

2. Dikeluarkan Kepada 8 Orang yang Berhak Menerima Zakat;

Allah Subhanahu Wata’ala Berfirman :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Delapan (8) golongan orang yang yang berhak menerima zakat dimaksud adalah;

a. Faqir
Faqir adalah orang yang tidak mempunyai harta atau pekerjaan sama sekali, atau orang yang mempunyai harta atau pekerjaan namun tidak bisa mencukupi kebutuhannya.

Contoh faqir; Semisal dalam sebulan dia butuh biaya sebesar Rp 1000.000, namun penghasilannya hanya Rp 500.000,-

b. Miskin
Miskin adalah orang yang mempunyai harta atau pekerjaan yang tidak bisa mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan orang-orang yang ditanggung nafkahnya.
Contoh miskin; Misalnya dalam sebulan dia butuh biaya sebesar Rp 2000.000, namun penghasilannya hanya mendapat Rp 1000.000 (mencapai separuh yang dibutuhkan).

c. Amil Zakat
Amil zakat adalah orang-orang yang diangkat oleh Imam atau pemerintah untuk menarik zakat kepada orang yang berhak menerimanya.

d. Muallaf atau orang yang baru masuk Islam

e. Riqab (Buda)

f. Ghorim (orang yang berhutang)

g. Sabilillah
Pengertian Sabilillah disini adalah orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan gaji. Dikalangan ulama terjadi perbedaan pendapat mengenahi makna Sabilillah. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud Sabilillah adalah orang-orang yang menjadi sukarelawan untuk berperang di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak mendapatkan gaji. Pendapat ini adalah pendapat dari mayoritas ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa Sabilillah adalah semua aktifitas yang menyangkut kebaikan untuk Allah sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qaffal, seperti untuk sarana-sarana pendidikan dan peribadatan Islam. Dan pendapat ini adalah lemah.

h. Ibnu sabil (musafir)
Ibnu sabil adalah orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat atau musafir yang melewati daerah tempat zakat dengan syarat. Ibnu Sabil atau musafir berhak menerima zakat jika bepergian yang B bukan untuk maksiat dan tentu dalam kondisi embutuhkan biaya.

Mau Zakat Fitrah Dimana?

Sebaiknya zakat itu, baik zakat fitrah atau zakat mal (harta) diberikan kepada 8 golongan, khsususnya kepada fakir miskin yang ada disekitar atau tetangga kita. Jika kita tinggal di Jakarta, maka berikanlah zakat kita kepada fakir miskin yang terdekat dengan rumah kita, sekalipun ada sebagian ulama yang memperbolehkan mengeluarkan atau memberikan zakat kepada orang yang diluar tetangga kita.

——————–

Penulis adalah Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Jakarta Timur