Ma’rûf Dan Ihsân Dalam Berumah Tangga

Bagaimanapun keadaan pasanganmu, sebuah keniscayaan bagimu dan baginya untuk saling menutupi ‘aib diri. Bahkan untuk sebuah perceraian yang tidak kita inginkan, Tuhan tetap berpesan, “pertahankan (rumah tanggamu) dengan ma’ruf atau berpisahlah dengan ihsan.”

Ma’ruf itu perbuatan baik yang pantas menurut pandangan umum, yakni sesuai dengan tuntunan agama, sejalan dengan akal sehat, serta sesuai dengan sikap orang berbudi. Menurut Syekh Raghib Al-Isfahani, arti ma’ruf itu:

المعروف اسم لكل فعل يعرف بالعقل أو الشرع حسنه

“Ma’ruf adalah Isim Jâmi’ untuk setiap perbuatan yang dapat diketahui nilai-nilai kebaikannya, baik menurut akal, maupun agama.”

Sementara Ibnu Manzhur menulis:

المعروف هو اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا عُرف مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ والإِحسان إِلَى النَّاسِ، وَكُلِّ مَا ندَب إِلَيْهِ الشرعُ وَنَهَى عَنْهُ مِنَ المُحَسَّنات والمُقَبَّحات وَهُوَ مِنَ الصِّفَاتِ الْغَالِبَةِ أَي أَمْر مَعْروف بَيْنَ النَّاسِ إِذَا رأَوْه لا يُنكرونه

Ma’ruf adalah Ism Jâmi’ bagi setiap hal yang dikenal, baik itu berupa keta’atan kepada Allah, bertaqarrub kepada-Nya, dan berbuat baik sesama manusia, dan juga termasuk setiap hal-hal baik yang dianjurkan agama untuk melakukannya dan manjauhkan diri dari hal-hal buruk. Ma’ruf merupakan suatu hal yang umum dikenal, artinya perkara tersebut sudah lumrah dalam masyarakat, jika mereka lihat, maka mereka tidak akan mengingkari (kebaikannya).

Prilaku baik dan pantas, begitu saya menyimpulkan makna dibalik kata Ma’rûf. Menceritakan dan apalagi mempublikasikan ‘aib rumah tangga bukan prilaku yang baik dan jauh dari kepantasan, siapapun pelakunya, baik ia memahami ilmu agama ataupun orang biasa. Seyogianya masing-masing pasangan dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal demikian, apapun alasannya.

Ini bukan sekedar perintah Tuhan, karena “kepantasan” itu juga berlaku dalam norma masyarakat. Tidak menggunakan pakaian yang laik dalam sebuah norma masyarakat adalah prilaku tidak pantas yang sebaiknya dihindari. Itu mengapa agama mengajarkan kepada kita sikap ‘iffah atau memelihara kehormatan diri. Allah pernah memuji Ahli Shuffah (sekelompok orang miskin yang menetap di Masjid Nabawi yang menjaga diri meilustrasi keluarga 2reka dari meminta-minta) karena menjaga kehormatan diri mereka. Mungkin sebagian kita menyebut, “tidak mengapa, pantas-pantas saja orang miskin mengemis.” Tapi Ahli Suffah tidak melakukan hal itu, prilaku mereka disebut  ‘iffah.

Nah, kembali ke prilaku Ma’ruf dalam kehidupan berkeluarga itu secara khusus disebut berulang-ulang, setidaknya Allah menyebutkan pada empat tempat: Pertama, perintah mempergauli istri dengan Ma’rûf (QS4: 19). Kedua, perintah menafkahi keluarga dengan Ma’ruf (QS 2:233). Ketiga, perintah berbuat ma’ruf kepada orang tua meskipun keduanya memerintahkan keburukan (QS 31: 15). Keempat, perintah mempertahankan rumah tangga (yang terancam cerai) dengan prilaku yang ma’ruf, namun bila harus bercerai, maka bercerailah dengan ihsan. (QS 2:229)

Secara bahasa, kata Ma’rûf dan Ihsân memiliki kedekatan makna; kebaikan. Bedanya, bila Ma’rûf itu kebajikan yang sudah melebur ke dalam norma, sementara Ihsân itu puncak segala kebajikan, di mana sang pelaku keihsanan (disebut Muhsin) secara total berkesadaran penuh menyempurnakan kemuliaan sikapnya dalam kehidupan.

Dalam menyikapi krisis rumah tangga, agama memberikan panduan yang sangat baik. Setidaknya kita bisa membacanya dalam dua ayat yang bergandengan dalam Surat An-Nisâ, yaitu pada ayat 34 dan 35. Setelah ikhtiyar saling mengingatkan (dengan nasihat yang baik di antara pasangan), berpisah ranjang (bila kemelut sudah tak bisa diatasi) dan bertindak tegas dengan peringatan, maka pada ayat berikutnya Allah meminta keduanya (pasangan suami istri) menghadirkan mediator untuk membantu menyelesaikan.

Lalu, ketika krisis rumah tangga tak dapat lagi didamaikan, maka tersisa dua pilihan (yang keduanya secara arif diikat oleh sikap yang sama; kebajikan). Dua pilihan itu adalah; bertahan dengan Ma’rûf atau berpisah dengan Ihsân. Sama sekali tidak ada celah untuk BERTAHAN dengan ketegangan yang menghinakan atau BERPISAH dengan pertikaian yang sarat kezaliman.

Maka, ayat ini sungguh bagaikan mutiara indah penyelesaian konflik rumah tangga yang memuliakan sektor domestik agar suami istri yang bertikai tidak mengumbarnya ke ranah publik.

Clear!

Apapun alasannya, mempublikasikan keburukan rumah tangga adalah sebuah kejahatan yang menghinakan di dalam perkawinan dan kezaliman yang mengerikan setelah perceraian. Satu-satunya pemakluman atas “menceritakan konflik rumah tangga” hanyalah dalam proses mediasi di mana pasangan suami istri menyepakati menunjuk seorang juru damai (hakam).

Dan apabila sang mediator menjalankan tugasnya dengan visi penyelesaian (benar-benar mau mendamaikan), maka Allah akan menganugerahkan taufiq-Nya kepada pasangan yang tengah bertikai. Sebagaimana firmannya dalam QS An-Nisâ ayat 35: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Resume:

Sepahit apapun keadaanmu dalam berumah tangga berusahalah dengan maksimal untuk mempertahankannya dengan kebaikan yang pantas. Namun bila rasanya sulit dipertahankan, selesaikanlah dengan menyempurnakan kemuliaan sikap, berpisahlah dengan ihsan tanpa harus mencaci, memaki apalagi mempublikasikannya ke seantero dunia. Tuhanmu pasti tidak ridha.

Epilog:

👉🏽 Televisi saat ini lewat program infotainment sering menyuguhkan informasi sengketa rumah tangga tanpa tedeng aling-aling, wilayah paling rahasia pun dibongkar terang-terangan. Mirisnya, tidak sedikit mereka yang diberitakan adalah orang-orang yang Allah berikan amanah sebagai penyambung lisan risalah Islam.

👉🏽 Dunia saat ini dipenuhi jejaring pertemanan lewat sosial media, nyaris tak ada batas rahasia saat kita tidak arif menggunakannya. Status sosmed kerap berisi keluhan atau bahkan pengumuman konflik rumah tangga. Mirisnya, sebagian mereka merasa tidak bersalah, karena menulis hanya di dindingnya sendiri, sementara setting status ter-upload diatur “for public” bukan “only me”.

Oleh : Ayah Enha (KH. Nurul Huda, MA), Sang Motivator Keluarga

Sore yang melelahkan usai pendampingan krisis RT dua klien di kantor Super Family Consulting

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *