Kepemimpinan Kolektif

Dalam QS Al-Anfal (8) ayat 62 Allah SWT berfirman,

وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ

Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah menjadi pelindungmu. Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang yang beriman.”

Sudah menjadi sunnatullah bahwa perjuangan para rasul Allah, walaupun pada mulanya selalu mendapatkan berbagai macam godaan dan tantangan, seperti intimidasi, pengusiran, dan ancaman pembunuhan, tetapi pada akhirnya Allah SWT menganugerahkan keselamatan dan kemenangan kepada mereka.

Rasulullah SAW yang diusir dari Makkah oleh kaumnya, yang kemudian berhijrah ke Madinah, ternyata ujung perjuangannya adalah Futuh Makkah, yaitu terbukanya hati penduduk Makkah untuk menerima ajarannya, dan takluknya kembali kota tersebut ke pangkuan beliau dan para sahabatnya, sebagaimana digambarkan dalam QS An-Nasr (110).

Yang perlu mendapatkan perhatian kita adalah bahwa kemenangan para rasul Allah dalam dakwah dan perjuangannya, selalu dikaitkan dengan pertolongan orang-orang yang beriman, sebagaimana termaktub dalam QS Al-Anfal (8) ayat 62 tersebut di atas. Artinya, kebersamaan mereka dengan kaumnya yang beriman merupakan persyaratan utama turunnya pertolongan Allah SWT.

Hal ini memberikan pelajaran, betapa pun kuat dan kharismatiknya seorang pemimpin, tetapi jika ia berjalan sendirian, tanpa didukung oleh lingkaran kelompok dan sahabat yang memiliki misi, visi, dan perilaku yang sama dengannya, tidak mungkin dia akan memenangkan perjuangan.

Bahkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Nasai, Rasulullah bersabda, ”Jika Allah bermaksud menjadikan seorang pemimpin itu baik, maka dijadikan-Nya para pembantunya orang-orang yang jujur, yang mampu mendukungnya jika benar dan mengingatkannya jika salah. Sebaliknya, jika Allah menghendaki pemimpin itu jahat, maka dijadikannya para pembantunya orang-orang yang buruk pula yang tidak pernah menolong jika benar dan tidak mau mengoreksinya jika salah.”

Karena itu, melalui PILKADA DKI Jakarta tanggal 19 April 2017, masyarakat hendaknya semakin menyadari bahwa keberhasilan membangun negara dan bangsa bukanlah semata-mata ditentukan oleh kualitas individu pemimpin itu saja, melainkan juga oleh kualitas para pembantu dan pendukungnya yang tersusun dalam manajemen organisasi yang rapi. Pemimpin yang mampu membangun kepemimpinan kolektif dan kejamaahan yang solid atas dasar cita-cita dan perilaku yang dapat dijadikan suri teladan bagi masyarakat.

Mari kita jadikan Pilkada DKI Jakarta sekarang ini sebagai suatu ajang penilaian, apakah paslon pemimpin Jakarta yang tinggal dua paslon ini memiliki tim yang solid dan kuat, ataukah hanya berjalan sendiri secara sporadis dan parsial tanpa didukung oleh organisasi yang rapi dan teratur. Seyogianya pemimpin dengan organisasi yang solid dan berperilaku baik itulah yang menjadi pilihan masyarakat. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Disadur dari tulisan KH Didin Hafidhuddin tahun 2004 yang pernah di muat di harian republika.***has

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *