Kebolehan Membaca Tasbih Saat Kagum

Oleh : M. Hasan Hasbullah

Banyak sekali artikel menyebar di google yang menyebabkan kerancuan dalam berfikir dan membuat masyarakat bingung di antaranya ada beberapa tulisan yang intinya melarang mengucapkan subhanallah ketika takjub atau kagum.

Hendaknya masyarakat Indonesia secara umum jangan hanya cukup dengan membaca artikel yang ada di website tanpa belajar kepada guru dan bertanya kepada ulama jika menemui kebingungan.

Sebenarnya tidak ada satu dalil pun yang melarang seseorang mengucapkan subhanallah ketika kagum. Larangan yang disampaikan di berbagai artikel tersebut hanya asumsi pribadi yang kemudian disampaikan untuk menyalahkan saudara muslimnya.

Jelas sekali di dalam al-Qur’an Allah banyak menyebutkan kata tasbih untuk menceritakan kekaguman, seperti ayat-ayat di bawah ini:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190)

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ  وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۚ  رَبَّنَا مَا  خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًا  ۚ  سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191).

Dalam surat ali imron ayat 190-191 menceritakan tentang orang-orang yang memiliki akal ketika menyaksikan tanda-tanda Allah yang agung tentang penciptaan langit dan bumi maka lisan mereka tergerak untuk mengucapkan :

سبحانك فقنا عذاب النار

Maha suci engkau maka lindungilah kami dari siksa neraka.”

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا   ۗ  اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Ayat ini menunjukkan suatu hal yang mengagumkan (yaitu tentang diisra-mi’rojkannya Nabi Muhammad), yaitu perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh Allah. Maka cocoklah ayat ini dimulai dengan lafadz “subhaanalladzii asraa biabdihii lailan” (maha suci dzat yang telah menjalankan hambanya pada malam hari). Ini mengajarkan kita untuk mengucapkan subhanallah sebagai rasa kagum terhadap mukjizat Nabi dan keagungan Allah, termasuk juga sebagai kekaguman bahwa Nabi Muhammad isra dan mi’raj dengan ruh dan jasad beliau seperti yang disebutkan oleh imam Abul Qosim al-Ashbahani bahwa lafaz subhana dalam ayat tersebut menunjukkan kekaguman.

Kata subhaana dalam QS. Al-Isra’ Ayat 1 tersebut diatas, mengekspresikan suatu ketakjuban atau kekaguman atas manifestasi qudratullah, yang membuat akal kebingungan & kewalahan dalam menalarnya. Dalam konteks Isra Mi’raj mengisyaratkan bahwa Isra Rasulullah adalah rihlah super spektakuler, tak dapat dijangkau daya nalar manusia, yang merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaanNya.

Syeikh Mutawalli AsSya’rawi menafsirkan makna subhaana, dengan menulis: “Kalimat subhaana dalam Al Isra ayat 1 memberi isyarat bahwa kejadian dan ‘adegan-adegan’ setelah kalimat subhaana, merupakan peristiwa yang keluar dari zona-zona kemampuan dan daya nalar manusia.

Apabila engkau mendengarnya, takutlah untuk menyanggah atau memprotesnya dengan berkata: “Bagaimana mungkin peristiwa ini bisa terjadi?“. Melainkan tasbihkanlah Allah bahwa perbuatanNya tidak sama dengan perbuatan manusia.

Apabila Allah telah berfirman, “Dia telah meng-isra-kan Nabi Muhammad dari Makkah ke Baitul Maqdis hanya dalam satu malam”, padahal lumrahnya manusia, jarak sejauh itu ditempuh dengan mengendarai unta selama satu bulan, maka takutlah engkau mengingkariNya. Karena Tuhanmu tidak berfirman, “Muhammad telah Isra (melakukan perjalanan malam)”, tapi Muhammad di-isra-kan oleh Tuhannya. Perjalanan isra bukan ‘dari dan oleh‘ kehendak Muhammad sendiri, tapi ‘dari dan oleh‘ kehendak Allah. Maka janganlah engkau membandingkannya dengan ukuran teori-teori waktu yang engkau ketahui! Perbuatan Allah bukan untuk dijadikan objek praktek atau eksperimen, tidak seperti perbuatan manusia”.

Bisa dilihat karya Syeikh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi,  dalam kitab Khawatiri Haul al Quran (Tafsir Al Sya’rawi). Kairo: Maktabah at Turas al Islamiy, t.t. hlm. 8310.

Kemudian saya akan tambahkan beberapa dalil berikut penjelasan ulama yang diakui keilmuannya skala internasional di antaranya adalah:

1. Di dalam kitab shohih bukhori, al-imam albukhori memberi judul didalam bab adab yang tertulis : باب التكبير والتسبيح عند التعجب (Bab membaca takbir dan tasbih ketika kagum)

Hadist yang beliau tulis adalah :

عَنْ أُمِّ سَلَمَة قَالَتِ : اسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقَالَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ، مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ ؟ وَمَاذَا فُتِحَ مِنَ الْخَزَائِنِ ؟ أَيْقِظُوا صَوَاحِبَاتِ الْحُجَرِ ؛ فَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ

Dari ummu salamah beliau berkata : Pada suatu malam Nabi SAW terbangun lalu bersabda: “Subhaanallah (Maha suci Allah), fitnah apakah yang diturunkan pada malam ini? Dan apa yang dibuka dari dua perbendaharaan (Romawi dan Parsi)? Bangunlah wahai orang-orang yang ada di balik dinding (kamar-kamar), karena betapa banyak orang hidup menikmati nikmat-nikmat dari Allah di dunia ini namun akan telanjang nanti di akhirat (tidak mendapatkan kebaikan).”

2. Untuk judul yang di tulis oleh Imam Bukhori, Imam Bathol berkomentar : Tasbih dan Takbir maknanya adalah mengagungkan Allah, dan menyucikan Allah dari setiap keburukan (yang dinisbatkan kepada Allah), dan penggunaan dzikir di atas adalah di saat takjub (kagum/heran) dan mengungkapkan perkara yang baik, serta di dalam nya terdapat hikmah untuk melatih lisan untuk selalu berdzikir kepada Allah, dan ini adalah penjelasan yang sangat gamblang dari Imam Bukhori dengan memberi judul seperti di atas, jadi seakan-akan beliau memberikan jawaban kepada orang-orang yang melarang ucapan tasbih untuk kagum.

3. Imam Ibnu Hajar menjelaskan : sungguh telah banyak riwayat hadist-hadist shohih yang menjelaskan tentang “dzikir dengan subhanallah ketika takjub (kagum)” seperti :

a. Hadits dari Abu Hurairoh ra :

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻘِﻴَﻨِﻲ النَّبِيُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺟُﻨُﺐٌ وفيه ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺠُﺲُ

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW berjumpa dengan aku padahal aku dalam keadaan junub. (Di dalam hadist tersebut) Beliau bersabda: “Subhanallah! Wahai Abu Hurairah, seorang Muslim itu tidaklah najis.” (HR Buchori-Muslim)

b. Hadits dari ‘Aisyah ra :

أن امرأة سألت النبي صلي الله عليه وسلم عن غسلها من المحيض وفيه قال تطهري بها قالت : كيف ؟ قال : سبحان الله” الحديث متفق عليه

Dari Aisyah, bahwasanya ada perempuan bertanya kepada Rasulullah S.A.W tentang tata cara wanita membersihkan diri dari haid, di dalam hadits tersebut disebutkan: Nabi bersabda, “Bersihkanlah dengan kapas tersebut!”  Lalu wanita itu bertanya lagi, “Bagaimana caranya?” Lalu nabi menjawab, “Subhanallah (sambil menutup muka beliau)”. HR Buchori-Muslim.

c. Hadist dr Imron Bin Husein R.a :

في قصة المرأة التي نذرت أن تنحر ناقة النبي صلي الله عليه وسلم فَقَالَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ بِئْسَمَا جَزَتْهَا

Riwayat dari Imron bin Husein tentang kisah seorang wanita yang bernadzar ingin menyembelih onta Rasulullah, maka Nabi bersabda, “Subhanallah “Malang benar jika engkau sembelih unta ini“. HR Muslim

d. Hadist Abdullah bin Sallam ra :

Di dalam riwayat Bukhori dan Muslim ada ungkapan dari sekumpulan shohabat (tentang penilaian mereka terhadap seseorang yang tampak bekas kekhusyuan ibadahnya) seperti riwayat dari Abdullah bin sallam tang di dalam hadist tersebut ada ungkapan kepada laki-laki tersebut : sesungguhnya engkau ini lelaki penghuni syurga. Lalu nabi berkomentar dalam sabda beliau : “Subhanallah, Tidak sepatutnya seseorang mengatakan apa yang tidak ia ketahui”. HR. Bukhori-Muslim

Penjelasan : Empat hadits diatas disebutkan Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari menunjukkan bahwa Nabi Muhammad mengucapkan lafadz subhanallah ketika takjub (kagum), dan beliau tidak pernah melarang dzikir tersebut diucapkan ketika kagum terhadap suatu perkara.

4. Hadist Riwayat Imam Bukhori tentang seseorang takjub (kagum) karena melihat hewan bisa berbicara:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ : ” بَيْنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً، إِذْ رَكِبَهَا فَضَرَبَهَا، فَقَالَتْ : إِنَّا لَمْ نُخْلَقْ لِهَذَا، إِنَّمَا خُلِقْنَا لِلْحَرْثِ “. فَقَالَ النَّاسُ : سُبْحَانَ اللَّهِ، بَقَرَةٌ تَكَلَّمُ ؟ فَقَالَ : ” فَإِنِّي أُومِنُ بِهَذَا أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ ” وَمَا هُمَا ثَمَّ
” وَبَيْنَمَا رَجُلٌ فِي غَنَمِهِ إِذْ عَدَا الذِّئْبُ فَذَهَبَ مِنْهَا بِشَاةٍ، فَطَلَبَ حَتَّى كَأَنَّهُ اسْتَنْقَذَهَا مِنْهُ، فَقَالَ لَهُ الذِّئْبُ : هَذَا اسْتَنْقَذْتَهَا مِنِّي، فَمَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ ؟ يَوْمَ لَا رَاعِيَ لَهَا غَيْرِي “. فَقَالَ النَّاسُ : سُبْحَانَ اللَّهِ، ذِئْبٌ يَتَكَلَّمُ ؟ قَالَ : ” فَإِنِّي أُومِنُ بِهَذَا أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ “. وَمَا هُمَا ثَمَّ.
صحيح البخاري | كِتَابٌ : أَحَادِيثُ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: suatu hari Rasulullah SAW shalat Subuh kemudian menghadap makmum dan Rasulullah SAW bersabda, “Dahulu, ada seorang lelaki berjalan sembari menunggangi seekor sapi miliknya [dan dia pun memukuli/mencambukinya]. Maka sapi itu pun menoleh kepadanya dan berkata, “Aku diciptakan bukan untuk diperlakukan seperti ini. Akan tetapi aku diciptakan untuk bercocok tanam.” Maka orang-orang pun berkomentar, “Subhanallah -dengan perasaan heran dan kaget-, sapi bisa berbicara?”.

Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku mengimani -meyakini kebenaran- hal itu, demikian juga Abu Bakar dan Umar.” Padahal   keduanya tidak ada  di tempat.

Kisah lain dalam riwayat yang sama, diceritakan :

Ketika  seorang menggembala dombanya, tiba-tiba seekor serigala menyerang dan membawa lari seekor domba. Penggembala itu mengejarnya, sehingga seolah-olah  dia menyelamatkannya darinya.  Serigala  itu  berkata  kepada penggembala, “Kamu menyelamatkannya dariku. Lalu siapa yang menyelamatkannya pada hari datangnya binatang   buas,   pada   hari   itu   tidak   ada penggembala kecuali aku? Orang-orang berkata, “Subhanallah, serigala berbicara.”  Nabi  bersabda,  “Aku  beriman  kepada  hal  ini, begitu   pula   Abu   Bakar   dan   Umar.”   Padahal   keduanya tidak ada  di tempat. (HR. Bukhari  )

5. Imam Nawawi dalam Syarah shohih muslim juz 3/10 menjelaskan sebagai berikut :

ولفظة (سبحان الله) لإرادة التعجب كثيرة في الحديث وكلام العرب

Artinya : dan lafadz subhanallah untuk bermaksud takjub (kagum) sangat banyak disebutkan dalam hadist dan percakapan orang arab.

6. Imam Nawawi juga memberi judul dalam kitab al-adzkar :

باب جواز التعجب بلفظ التسبيح والتهليل ونحوهما

Bab kebolehan mengucapkan tasbih, tahlil dan seumpamanya di saat takjub (kagum).

7. Di dalam almausuah alfiqhiyah alkuwaitiyah disebutkan bab tentang tasbih untuk takjub dan menampilkan hadist :

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﺃﻧﻪ ﻟﻘﻴﻪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﻣﻦ ﻃﺮﻕ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﻫﻮ جنب ﻔﺎﻧﺴﻞ ﻓﺬﻫﺐ ﻓﺎﻏﺘﺴﻞ ﻓﺘﻔﻘﺪﻩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻠﻤﺎ ﺟﺎﺀﻩ ﻗﺎﻝ :  ﺃﻳﻦ ﻛﻨﺖ ﻳﺎ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ .
ﻗﺎﻝ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻘﻴﺘﻨﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﺟﻨﺐ ﻓﻜﺮﻫﺖ ﺃﻥ ﺃﺟﺎﻟﺴﻚ ﺣﺘﻰ ﺃﻏﺘﺴﻞ . ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ :  ﺳﺒﺤﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻨﺠﺲ.

Dari Abu Hurairah bahwasanya dia bertemu Nabi ﷺ di salah satu jalan di Madinah, dan dia junub. Maka dia menyelinap pergi untuk mandi, sehingga Rasulullah ﷺ mencari-carinya. Ketika dia datang kembali, beliau pun bertanya, “Kemana kamu pergi wahai Abu Hurairah ?”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau menemuiku dalam keadaan aku junub, aku merasa tidak suka untuk duduk bersama kamu hingga aku mandi”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Maha Suci Allah, orang mukmin itu tidak najis”.

عَنْ أَنَسٍ ، أَنَّ أُخْتَ الرُّبَيِّعِ أُمَّ حَارِثَةَ جَرَحَتْ إِنْسَانًا، فَاخْتَصَمُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” الْقِصَاصَ، الْقِصَاصَ “. فَقَالَتْ أُمُّ الرَّبِيعِ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُقْتَصُّ مِنْ فُلَانَةَ ؟ وَاللَّهِ لَا يُقْتَصُّ مِنْهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” سُبْحَانَ اللَّهِ يَا أُمَّ الرَّبِيعِ الْقِصَاصُ كِتَابُ اللَّهِ “. قَالَتْ : لَا وَاللَّهِ لَا يُقْتَصُّ مِنْهَا أَبَدًا. قَالَ : فَمَا زَالَتْ حَتَّى قَبِلُوا الدِّيَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ “.

Dari Anas ra, sesungguhnya saudara perempuan arrobi’ yaitu ummu haritsah melukai seseorang, mereka mengadukan kepada nabi lalu beliau bersabda : “Hukuman qishos, hukuman qishos” lalu ummu robi’ berkata : “Wahai Rosulullah apakah si fulanah harus di hukum qishos? Demi Allah, dia tidak berhak di qishos”. Nabi ﷺ  bersabda : “Subhanallah wahai ummu robi’, hukuman qishos itu ada di Al-qur’an”. Lalu ummu robi’ berkata lagi : “Tidak, demi Allah dia tidak berhak di qishos selamanya”. Nabi SAW Bersabda : “Ia masih terkena hukuman qishos sampai mereka menerima diyat”, kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya ada dari kalangan hamba-hamba Allah seseorang yang jika dia bersumpah atas nama Allah maka Allah mengabulkannya”.

Tambahan : di dalam buku basahi lidahmu dengan dzikrullah karya syeikh irfan bin sulaim al-asya hasunah di halaman 240 tertulis judul untuk hadist di atas : “apa yang harus diucapkan seorang ketika merasa kagum dengan sesuatu padahal ia mengingkari sebelumnya atau merasa takut darinya.

8. Imam Nawawi dalam Tahdzib al asma’ wash shifat juz 3/143 menjelaskan : sebagian ulama menjelaskan bahwa secara hukum asal penggunaan tasbih itu ketika melihat perkara yang mengagumkan dari ciptaan Allah, kemudian berlakulah dzikir tersebut untuk bentuk takjub yang lain.

Dari paparan di atas jelaslah bagi kita bahwa membaca subhanallah ketika takjub (kagum) tidaklah dilarang bahkan disunnahkan, maka dari itu hendaknya orang-orang yang menyalahkan tanpa ilmu agar menahan diri dari menyampaikan apa yang tidak di ketahui, bertanyalah kepada para ulama’ agar tidak gampang menyalahkan orang lain.

————-

Penulis adalah Pengurus MUI Kecamatan Cipayung Kota Administrasi Jakarta Timur periode 2016-2021

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *