Islam Dan Politik Negara Bangsa

Oleh : Drs. KH. Moh. Ridwan Thayyib**

Muqaddimah

Sejak awal kehadirannya, Allah SWT sudah memastikan peran penting Islam sebagai pewarna dunia dengan peradaban yang bersifat holistik. Umat sebagai subjek perubahan disebut alQuran dengan generasi pertengahan (ummatan wasathan), di lain kali didudukan sebagai umat terbaik (khairo ummah) dengan tugas besar menegakkan amar makruf nahi munkar. Ini bukan pilihan tetapi keharusan karena dengannya jalam moderat menuju kehidupan yang bermanrtabat menjadi kenyataan.

Sematan ‘rahmatan lilalamin’ mengindikasikan universitas nilai-nilai Islam, karena Islam memang bukan produk lokal Arab, tetapi produk samawi yang melampaui batas etnik, ras, entitas, bangsa dan peradaban apapun. Karena itu dalam kontek keindonesiaan kita, Islam sangat akomodatif dan bahkan menjadi spirit kebangsaan ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) disepakati sebagai bentuk Negara yang final.

Islam dan Negara Bangsa

Negara bangsa (nation-state) adalah terbentuknya sebuah Negara yang didahului dengan adanya bangsa. Jadi dalam kontek nation-state, bangsa telah terbentuk sebelum adanya pernyataan berdirinya sebuah negara. Salah satu contoh negara yang termasuk dalam nation-state adalah Indonesia.

Masyarakat Indonesia mengakui sebagai satu kesatuan sebuah bangsa sebelum Indonesia meraih kemerdekaan, yaitu pada tahun 1908 dengan adanya gerakan Budi Utomo yang concern terhadap pendidikan dan persatuan bangsa Indonesia. Barulah setelah adanya pengakuan mengenai kesatuan bangsa, seluruh lapisan rakyat Indonesia mengupayakan bebas dari penjajah dan akhirnya dapat meraih kemerdekaan pada tahun 1945 shingga menjadi negara seutuhnya. Negara yang ditempati oleh satu bangsa tetapi berbhineka, negara yang didalamnya terdpat bangsa yang satu tetapi multi etnik, ras, kultur dan bahkan keyakinan.

Faktor historis ini yang pada gilirannya memudahkan Indonesia memperoleh syarat-syarat pengukuhan sebagai negara yang berdaulat penuh baik secara konstitutif maupun deklaratif. Dengan demikian semangatnya menjadi jelas, negara bangsa atau nation-state adalah negara yang pluralistic bukan monolitik.

Bagaimana Islam memandang negara bangsa, AlQur’an ternyata telah lebih dahulu memfasilitasi kemungkinan terbentuknya negara bangsa, bahkan jika di cermati secara semantik bentuk teks ayat berkenaan dengan hal ini mengandung konotasi dorongan, anjuran dan bahkan perintah membentuk nation-state. Dalam Quran surat al-Hujrat ayat 13 Allah SWT menyampaikan hal itu:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Politik Negara Bangsa

Setiap produk politik, dari mulai yang paling fundamental seperti dasar dan ideologi negara, konstitusi negara, berbagai kelembagaan sebagai institusi negara, sampai kepada hal-hal yang bersifat regulatif seperti perundang-undangan, kebijakan pemerintah selalu dimulai dari semangat mengakomodir kepentingan seluruh kelompok dan golongan yang menjadi steak holder negara, baik kelompok mayoritas maupun minoritas. Empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sesungguhnya merupakan strategi besar untuk mengukuhkan dan memperkuat semangat politik negara bangsa.

Islam sangat resfek dan apresiatif tentang hal itu dan bahkan dalam banyak ajarannya Islam mendorong peran-serta dan konstribusi umat dalam berbangsa dan bernegara. Betapa banyak ayat politik dalam alQur’an yang berkonotasi pentingnya hidup dalam suatu entitas bangsa dan negara, seperti anjuran untuk bersatu, musyawarah, toleransi, menghargai keragaman dan gotong royong. Demikian juga hadits-hadits Rasulullah SAW yang banyak memberikan spirit hidup bersama dalam semangat kebangsaan atau nasionalisme.

Membaca Kembali Posisi Umat di Tengah Arus Dinamika Berbangsa dan Bernegara

Ada beberapa catatan penting kondisi umat saat ini baik dunia internasional maupun dalam negeri ;

Dalam ranah dunia umat menghadapi :

  1. Pitnah besar
  2. Islamopobia
  3. Proses marginalisasi
  4. Menjadi yang teralienasi
  5. Kekuatan lobby negara-negara Islam mungkin hanya menjadi kekuatan keenam setelah Amerika, Rusia, Cina, Eropa, Negara-negara Industri maju, seperti Jepang, Korea, Kanada dan lain-lain.

Dalam ruang domestik, umat menghadapi :

  1. Babak baru deislamisasi
  2. Peta baru polarisai kekuatan politik
  3. Dikotomi Islam moderat dan fundamental yang semakin kokoh
  4. Stigma intoleransi

Bacaan kita, boleh jadi kebijakan politik dunia dan negara yang kurang memihak kepentingan umat Islam, tetapi umat Islam sendiri diharapkan dengan masalah internalnya, seperti :

  1. Masalah klasik yang tidak pernah selesai; ‘Perpecahan
  2. Kehilangan idealisme
  3. Tersandra kepentingan sesaat
  4. Demoralisasi kepemimpinan umat
  5. Besar tapi membonsai

Penutup

Jujur, diakui tulisan ini sedikit banyak dipengaruhi kondisi politik tanah air saat ini, khusunya DKI Jakarta menjelang pilkada 15 Pebruari 2017. Karena itu pesan sederhananya adalah kenali masalah internal dan eksternal umat untuk membangun kesadaran baru agar perjuangan umat mendapat tempat yang strategis dalam politik kekuasaan. Tidak berhenti sampai pada target-target sesaat atas nama kemenangan atau kekuasaan politik. Tidak cukup sampai pada mendemo, menekan bahwa penista agama itu atas nama negara hukum kita dukung seratus persen diproses hukum.

Bila terbukti bersalah, dipenjarakan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Tetapi kita juga mesti membaca diri, bukankah sudah lama kita meninggalkan agama ini dengan tidak merespon seruan syariatnya? Bukankah sudah terlalu jauh kita melupakan ayat-ayat Allah, dengan tidak menjadikannya sebagai pedoman bermuamalah, berbangsa dan bernegara? Rasulullah sudah memprediksi kondisi ini jauh sebelum jaman ini :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan alQur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al Furqan : 30)

Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan berkahnya untuk umat, bangsa dan Negara ini.

_____________

**Penulis adalah Pengasuh Majelis Ta’lim Darul Furqan, Majelis Ta’lim Annuur, Majelis Ta’lim Nurul Iman, Majelis Ta’lim Al-Ihsan, Majelis Ta’lim Syubbanul Muniib dan pernah menjadi Anggota Dewan Penasehat MUI Cakung masa khidmat 2011-2016.

Materi ini pernah disampaikan pada Pengajian Bulanan Masjid Jiep Baitul Hamd, Kawasan Industri Pulogadung 27 Nopember 2016. (rekaman videonya dapat dilihat pada link : https://www.youtube.com/watch?v=Of1GV21hCGI)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *