Hukum Pengalihan Wakaf

Pengantar Pengelola

Halaman ini berisi seputar fatwa-fatwa MUI DKI JAKARTA, baik fatwa yang sudah lawas maupun yang terbaru. Kami berharap setiap informasi fatwa yang kami muat dapat memberikan pencerahan kepada pembaca sekalian. Berikut ini kami turunkan fatwa MUI DKI Jakarta ihwal Problem Tanah Wakaf  yang pernah terjadi di tahun 2002 yang kami nukil dari buku Kumpulan Fatwa MUI DKI 1975-2012. Salam.

Bismillahirrahmanirrahim

Memperhatikan surat Saudara tertanggal 9 April 2002 perihal Permohonan Fatwa tentang “Hukum Pengalihan Fungsi Tanah Wakaf, maka pada tanggal 25 April dan 2 Mei 2002, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta telah mengadakan rapat untuk membahas permohonan fatwa yang Saudara ajukan. Setelah mempelajari keterangan tertulis dalam surat permohonan Saudara, maka Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, memutuskan :

1. Wakaf adalah menyerahkan (menyedekahkan) tanah atau benda-benda lain yang dapat dimanfaatkan oleh umat Islam tanpa merusak atau menghabiskan pokok (asal)-nya kepada seseorang atau suatu badan hukum agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Seperti mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, madrasah, pondok pesantren, asrama yatim piatu, tempat pemakaman dan sebagainya. Sebagaimana dikatakan oleh Sayyid Sabiq sebagai berikut :

“Wakaf adalah menahan asal (pokok) dan mendermakan buah (hasil)-nya untuk sabilillah, yakni menahan harta dan mendayagunakan manfaatnya untuk sabilillah”.

2. Wakaf hukumnya adalah sunnah muakkadah. Karena wakaf merupakan shodaqoh jariyah yang pahalanya terus mengalir, meskipun waqif (orang yang mewakafkan) telah wafat. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam surat Ali Imran, ayat 92 :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Ali Imran (3) : 92)

Demikian juga sabda Rasulallah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik ra., sebagai berikut :

قَامَ أَبُوْ طَلْحَةَ إِلَى رَسُوْلِ الله –  فَقَالَ يَا رَسُوْلَ الله, إِنَّ الله تَبَارَكَ وَ تَعَالَى يَقُوْلُ لَنْ تَنَالُوْا البِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ. وَ إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِى إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ, وَ إِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُوْ بِرَّهَا وَ ذُخْرَهَا عِنْدَ الله, فَضَعْهَا يَا رَسُوْلَ الله حَيْثُ أَرَاكَ الله. قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ الله – « بَخْ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِخٌ، ذَلِكَ مَالٌ رَابِخٌ، وَ قَدْ سَمِعْتُ مَ قُلْتَ وَ إِنِّى أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِى الأَقْرَبِيْنَ ». فَقَالَ أَبُوْ طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. فَقَسَمَهَا أَبُوْ طَلْحَةَ فِى أَقَارِبِهِ وَ بَنِى عَمِّهِ

“(Suatu ketika) Sahabat Abu Thalhah menghadap Rasulallah SAW dan berkata; Allah SWT telah berfirman dalam kitab-Nya; ‘Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), hingga kamu menafkahkan apa-apa yang kamu cintai. Sesungguhnya kebun itu aku sedekahkan untuk Allah; aku mengharapkannya sebagai kebajikan dan simpanan di sisi Allah. Maka letakkan (pergunakanlah) kebun tersebut wahai Rasulallah, sesuai dengan kehendakmu. Rasulallah bersabda: “Bagus! Bagus!, itu adalah harta yang menguntungkan. Saya telah mendengar apa yang engkau ucapkan (memohonkan) tentang kabut tersebut. Menurut saya, sebaiknya kebun itu engkau gunakan (sedekahkan) untuk keperluan para famili terdekatmu. Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada para familinya yang terdekat.”

3. Pada dasarnya, wakaf dapat dilakukan oleh orang yang memiliki suatu benda yang sah untuk diwakafkan dengan perbuatan, ucapan atau tulisan. Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Qalyubi, juz III, halaman 105

وَلَوْ جَعَلَ البُقْعة مَسجِدا او مَقْبَرَةً (اَوْ رِبَاطا اَو مَدْرَسَةً او بِئْراً) اَنْفَكَ عَنْكَ اِخْتِصَاص الاَدَمى قَطْعًا

“Dan jika seseorang menjadikan (membangun) sebidang tanah (yang dimiliki) untuk masjid, pemakaman, markas pertanian, madrasah, atau sumur, maka gugurlah segala hak-hak perorangan atasnya.”

Sungguh pun demikian, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, maka seseorang yang bermaksud mewakafkan tanah atau benda-benda lain sebaiknya mengikrarkannya di hadapan notaris dan sekaligus mensertifikatkannya. Oleh karena itu, tindakan saudara yang mengikrarkan perwakafan tanah mushalla di Tanah Abang dihadapan Notaris Yetty Taher, SH., patut mendapat pujian.

4. Pada dasarnya tanah-tanah atau benda lain yang telah diwakafkan tidak boleh diperjualbelikan, dihibahkan, dan atau diwariskan. Hal ini didasarkan pada hadits shahih Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dari sahabat Abdullah ibn Umar RA, sebagai berikut :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ الله عَنْهُمَا – أَنَّ عُمَرَ ابْنِ الخَطَّابِ أَصَابَ أَرْضًا بَخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيُّ –صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– يَسْتَأْمِرُهُ فِيْهَا فَقَالَ يَا رَسُوْلَ الله، إِنِّى أَصَبْتُ أَرْضًا بَخَيْبَرَ, لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطٌّ أَنْفَسَ عِنْدِى مِنْهُ ، فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَ تَصَدَّقْتَ بِهَا ». قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ وَ لَا يُوْهَبُ وَ لَا يُوْرَثُ وَ تَصَدَّقَ بِهَا فِى الفُقَرَاءِ وَ فِى القُرْبَى ، وَ فِى الرِّقَابِ ، وَ فِى سَبِيْلِ الله ، وَ ابْنِ السَبِيْلِ ، وَ الضَّيْفِ ، لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالمـَعْرُوْفِ ، وَ يُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ

“Dari sahabat Ibnu Umar RA., beliau berkata: “Bahwa sesungguhnya Umar mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Kemudian ia datang kepada Rasulullah SAW untuk memohon petunjuk tentang masalah itu; maka Umar berkata: “Ya Rasulullah, saya telah mendapatkan tanah di Khaibar yang sangat saya senangi dan tidak pernah saya dapatkan/miliki sebelumnya. Apakah perintahmu kepadaku berkenaan dengan tanah yang saya dapatkan ini? Rasulullah menjawab: “Jika engkau suka wakafkanlah tanah itu dan engkau sedekahkan hasilnya. Berdasarkan Rasulullah maka Umar ibn al-Khattab langsung mewakafkan tanah tersebut dengan ketentuan tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh pula diwariskan. Umar mensedekahkannya kepada orang-orang fakir, keluarga terdekat, hamba sahaya, membiayai kegiatan yang bertujuan menegakkan agama Allah, membantu anak-anak terlantar di perjalanan dan untuk menjamu tamu-tamu. Orang-orang yang mengurus wakaf diperbolehkan (tidak dilarang) memakan hasil wakaf sewajarnya tanpa (niat) mengambl keuntungan”.

Demikian juga hadits Rasulallah SAW riwayat Ibn Majah dari Ibn Umar, sebagai berikut :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ المِائَةَ سَهْمٍ الَّتِي لِي بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ أَعْجَبَ إِلَيَّ مِنْهَا قَدْ أَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْبِسْ أَصْلَهَا وَ سَبِّلْ ثَمَرَتَهَا

“Sahabat Umar ibn al-Khattab lebih berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Sesungguhnya saya mempunyai harta berupa seratus saham tanah yang terletak di Khaibar.Tanah tersebut sangat saya senangi dan tidak ada harta yang lebih saya senangi dari pada itu.Sesungguhnya saya bermaksud menyedekahkannya. Nabi Muhammad SAW bersabda “Wakafkanlah tanah tersebut dan sedekahkan buah (hasil)nya”

5. Sungguh pun demikian, jika ada tanah atau benda wakaf tersebut telah rusak atau tidak berfungsi lagi, atau terkena gusur, maka tanah atau benda wakaf tersebut boleh dijual dengan syarat uang hasil penjualannya harus dibelikan tanah atau barang yang penggunaannya sama seperti benda wakaf semula. Hal ini didasarkan pada penjelasan Ibnu Qudamah dalam Kitab al-Mughny Juz V, halaman 368 sebagai berikut:

وَإِذَا خَرَبَ الوَقْفُ وَلَمْ يَرِد شيئا ، بِيع ، واشـتُرى بثمنه ما يُردُّ عَلَى أهلِ الوَقْفِ ، وَ جَعَلَ وَقْفًا كالأَوَلِ ، وَ كَذَلِكَ الفرَسِ الحبيس إذا لم يصلح للغزو بيع ، واشُترى بثمنه مَا يَصْلحُ لِلْجِهَادِ

“Jika ada suatu benda/harta wakaf telah rusak dan tidak berfungsi lagi maka benda/harta wakaf tersebut boleh djual, dan uang hasil penjualannya dibelikan barang yang dapat mendatangkan pahala bagi pewakaf, dengan catatan barang tersebut dijadikan barang wakaf sebagaimana semula. Demikian pula jika ada benda yang diwakafkan untuk digunakan sebagai alat perang sudah tidak layak lagi untuk digunakan perang, maka benda tersebut boleh dijual dan uang hasil penjualannya dibelikan sesuatu yang layak digunakan untuk perang”

6. Apabila ada tanah atau harta wakaf terpaksa dijual atau kena gusur, maka uang hasil penjualannya harus dibelikan tanah atau benda lain yang sejenis atau yang lebih baik dari pada tanah atau benda wakaf semula. Jika sesudah dibelikan tanah atau benda lain uangnya masih tersisa, maka sisa uang tersebut harus dipergunakan untuk kepentingan atau kemaslahatan wakaf itu sendiri (seperti pemeliharaan, penambahan dan pemugaran), atau untuk kemaslahan untuk umat Islam, karena statusnya adalah harta wakaf juga. Sebab harta yang diperoleh dari wakaf atau dari hasil wakaf adalah termasuk harta wakaf yang harus diserahkan untuk kemaslahatan wakaf itu sendiri. Hal ini didasarkan atas pertimbangan beberapa pendapat ahli fiqh, antara lain Imam Ahmad ibn Hambal, ath-Thanbaradi dan an-Nawawi sebagai berikut:

قالَ احمَد فى رواية ابى داود اذا كانَ فى المسجد خشبتَان لهما قيمة جاز بيعها و صرف ثمنها عليه

“Imam Ahmad berpendapat dalam riwayat Abu Daud; Apabila dalam masjid ada batang kayu yang berharga, kayu tersebut boleh dijual dan uangnya diserahkan kepada masjid tersebut”.

وَ سُئِلَ العلامة الطَنْبَرَدِى فِى شَجَرَةٍ نَبَتَتْ بِقَبْرَةٍ مُسْلِمَةٍ وَ لَمْ يَكُنْ لَهَا ثَمَرٌ يَنْتَفِعُ بِهِ اِنَّبِهَا أَخْشَابًا كَثِيْرَةً تَصْلُحُ لِلْبِنَاءِ وَ لَمْ يَكُنْ لَهَا نَاظِرٌ خَاصٌ فَهَلْ لِنَاظِرِ العَام (اى القاضى) بَيْعُهَا وَ قَطْعُهَا وَ صَرْفُ قِيْمَتُهَا لِمَصَالِحِ المـُسْلِمِيْن ؟ فَأَجَابَ نَعَمْ ، القَاضِى فِى المـَقْبَرَةِ المـُسْلمَة بَيْعُهَا وَ صَرْفَ ثَمَنِهَا فِى مَصَالِحِ المـُسْلِمِيْن

“Imam ath-Tanbarodi ditanya tentang batang pohon yang tumbuh di atas kuburan, tetapi tidak berbuah dan tidak mendatangkan manfaat.Hanya saja pohon tersebut bisa dibuat kayu dalam jumlah yang banyak dan layak untuk dijadikan bahan bangunan, sedangkan kuburan tersebut tidak mempunyai nadzir (pengelola) khusus.Bolehkah bagi hakim (pejabat pemerintah) menjual dan memotong pohon tersebut dan kemudian uangnya diserahkan untuk kepentingan kaum muslimin? Beliau menjawab, “boleh”. Hakim (pejabat pemerintah) tersebut boleh menjual pohon di atas kuburan itu dan menyerahkan uangnya untuk kepentingan Islam”.

Imam Nawawi dalam Kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzah juz III halaman 594 berkata sebagai berikut:

فَالأَرْجَحُ اِنَّ المـَوقُوف عَليهمْ لا يَمْلِكُ القِيْمَةَ بَلْ يَشْتَرَى بِقِيْمَةِ مَكَان الوَقْفِ مَكَانَهُ و انْ كَثُرَ

“Menurut pendapat yang unggul bahwa orang yang menerima wakaf tidak berhak memiliki hasil/harga wakaf, tetapi hendaknya hasil/harga tersebut dirupakan benda wakaf juga sebagai pengganti wakaf semula, walaupun hasil/uangnya lebih banyak”.

7. Berdasarkan hadits-hadits dan pendapat-pendapat para ulama diatas, Komisi Fatwa MUI Provinsi DKI Jakarta berkesimpulan, bahwa penjualan tanah wakaf milik mushala SAS Tanah Abang kepada developer PT. Multi Cipta Permai Wisata, adalah “Tidak Sah” kecuali jika penjualan tersebut dilakukan atas dasar keputusan rapat pengurus Yayasan sesuai dengan anggaran dasar Yayasan dan uang hasil penjualan tersebut dipergunakan untuk membeli tanah sejenis atau yang lebih baik dan tanah tersebut berstatus sebagai wakaf sebagaimana tanah wakaf semula.

8. Jika saudara (H. Anas Syamsi) selaku pewakaf tanah Mushalla SAS Tanah Abang tidak menyetujui penjualan mushalla tersebut kepada Developer PT. Multi Cipta Permai Wisata kecuali jika pihak developer menggantinya dengan sebuah masjid yang lebih besar di lokasi Tanah Abang, maka keputusan Saudara harus ditaati oleh semua pihak. Sehubungan denga itu, Komisi Fatwa mengharapkan kepada pihak-pihak terkait untuk menghentikan pembongkaran Mushalla SAS di Tanah Abang, kecuali jika developer telah memenuhi permintaan Saudara untuk menggantinya dengan sebuah masjid yang lebih besar di lokasi Tanah Abang.

Demikian fatwa yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih, teriring do’a “Jazakumullah ahsanal jaza”. Amin.

Jakarta, 2 Mei 2002

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA DKI JAKARTA

Ketua,                                                                                                Sekretaris,

ttd                                                                                                        ttd

Prof. KH. Irfan Zidny, MA                                                       KH. Drs. M. Hamdan Rasyid, MA

Mengetahui,

Ketua Umum,                                                                                 Sekretaris Umum,

ttd                                                                                                        ttd

KH. Achmad Mursyidi                                                                Drs. H. Moh. Zainuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *