Hukum Isbal

Oleh : Ahmad Ar Rifa’i**

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah (pula) kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Luqman : 18).

Imam Adz Dzahabi dalam Al Kabair membuka bab Isbal dengan ayat ini, sebab isbal identik dengan kesombongan dan keangkuhan.

Adapun hadis Nabi yang berkaitan dengan Isbal antara lain yaitu:

وقال عليه الصلاة والسلام :  إزرة المؤمن إلى نصف ساقيه ولا حرج عليه فيما بينه وبين الكعبين ماكان أسفل من الكعبين فهو في النار

Nabi bersabda : ”Sarung seorang mukmin adalah sampai separuh betisnya dan tidak dosa baginya antara betis dan dua mata kaki, sarung yang sampai di bawah mata kaki maka masuk neraka.” (HR. Abu Dawud 3576).

Hadis ini menerangkan bahwa memanjangkan sarung, jubah, celana atau pakaian lainnya melebihi mata kaki maka hukumnya dosa besar sebab ancamannya neraka. Akan tetapi dalam hadist lain riwayat Bukhori, Nabi Saw  bersabda:

لا ينظر الله إلى من جر إزاره بطراً

Allah tidak akan pernah mau melihat orang yang memanjangkan sarungnya karena sombong.” (HR. Bukhori 5788).

Dan hadits ini diperkuat oleh riwayat Abu Dawud dimana beliau bersabda:”

الإسبال في الإزار و العمامة من جر شيئاً منها خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة

Isbal dalam sarung atau surban, siapapun yang memanjangkannya karena sombong maka Allah tidak akan mau melihatnya dihari kiamat kelak”. (HR Abu Dawud 4094).

Hadits yang menerangkan masalah isbal sangat banyak dan derajatnya beda-beda. Dari sinilah lalu muncul perbedaan pendapat yang mengemuka tentang hukum isbal itu sendiri.

Muhammad Bin Sholih Al Utsaimin menghukumi Isbal dengan haram secara mutlak. Beliau menjelaskan bahwa isbal tanpa khuyala’ (kesombongan) adalah dosa besar. Sementara isbal yang disertai kesombongan lebih besar lagi dosanya. Beliau juga menolak pendapat ulama yang mengatakan bahwa keharaman isbal adalah jika terjadi kesombongan. Alasannya, hadits tentang isbal baik yang redaksinya tidak terdapat kata khuyalaa’ tidak bisa di taqyiid dengan hadis isbal yang terdapat kata khuyalaa’, karena menurut  Al Utsaimin, keduanya berbeda hukum. Sementara itu dalam kaidah berlakunya taqyiid terhadap nash yang mutlak adalah jika terjadi kesamaan hukum (lihat, Syarah Al Kabair, 345-346).

Menurut para huffadz muktabar bahwa kemutlakan keharaman isbal harus dibatasi dengan keharaman isbal karena sombong.

Oleh sebab itulah pakar hadits terkemuka al Hafidz, al Imam an Nawawi berpendapat bahwa hukum Isbal jika disertai kesombongan adalah haram, dosa besar. Sementara itu jika tidak disertai kesombongan maka hukumnya menjadi makruh, sebab hadis yang menerangkan ancaman isbal bersifat mutlak maka harus dibatasi dengan hadis isbal dengan tujuan khuyalaa’ (kesombongan).

Lebih lanjut  beliau berkata:

وَ الْمُسْتَحَبّ أَنْ يَكُون الْإِزَار إِلَى نِصْف السَّاق,  وَ الْجَائِز بِلَا كَرَاهَة مَا تَحْته إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَمَا نَزَلَ عَنْ الْكَعْبَيْنِ مَمْنُوع مَنْع تَحْرِيم إِنْ كَانَ لِلْخُيَلَاءِ وَإِلَّا فَمَنْع تَنْزِيه

Sunnahnya adalah apabila sarung hanya sampai tengah betis, dan boleh tanpa hukum makruh jika dipanjangkan sampai dibawahnya sampai mata kaki. Dan jika lebih dari mata kaki maka hukumnya makruh tahrim jika disertai dengan kesombongan, namun jika tidak ada kesombongan maka hukumnya menjadi makruh tanzih.” (Shahih Muslim Bi syarhin Nawawi,7/169).

Al hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul bari berkata :

وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة، وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيثتَ حْرِيمه أَيْضًا، لَكِنْ اُسْتُدِلَّ بِالتَّقْيِيدِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث بِالْخُيَلَاءِ عَلَى أَنَّ الْإِطْلَاق فِي الزَّجْر الْوَارِد فِي ذَمّ الْإِسْبَال مَحْمُول عَلَى الْمُقَيَّد هُنَا، فَلَا يَحْرُم  الْجَرّ وَالْإِسْبَال إِذَا سَلِمَ مِنْ الْخُيَلَاء

Dalam hadits-hadits ini diterangkan sesungguhnya isbal karena sombong itu dosa besar, adapun isbal bukan karena sombong maka menurut dhohir hadits juga haram, akan tetapi di ambil dalil dengan taqyiid dalam hadits hadits ini dengan kesombongan, karena sesungguhnya mutlaknya keharaman yang datang dalam celaan isbal itu ditanggungkan atas perkara yang membatasinya, maka tidak haram menjulurkan dan isbal jika selamat dari kesombongan.

Ibnu Abdil Bar sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajjar dalam Al Fath-nya berkata :”

مَفْهُومه أَنَّ الْجَرّ لِغَيْرِ الْخُيَلَاء لَا يَلْحَقهُ الْوَعِيد، إِلَّا أَنَّ جَرّ الْقَمِيص وَغَيْره مِنْ الثِّيَاب مَذْمُوم عَلَى كُلّ حَال

Yang dapat dipahami dari hadits itu adalah sesungguhnya memanjangkan sarung tanpa adanya kesombongan itu tidak dikenai ancaman, kecuali sesungguhnya memanjangkan gamis dan yang lainnya itu tercela disetiap kondisi.” (Fathul Bari, 17/336).

Lebih jauh Ibnu Hajjar menjelaskan bahwa Isbal tanpa adanya unsur kesombongan kondisinya bermacam-macam. Jika pakaian tersebut digunakan menurut ukuran pemakainya maka tidak haram, lebih-lebih lagi jika kejadiannya seperti yang terjadi pada Abu Bakar, adapun jika sudah melebihi ukuran pemakainya maka itu hukumnya haram adakalanya sebab isrof (berlebih-lebihan) ataupun sebab serupa dengan perempuan. (Fathul Bari, 16/336).

Kesimpulannya, memanjangkan sarung, celana atau pakaian lainnya melebihi mata kaki hukumnya haram menurut syeikh Utsaimin dan yang semanhaj dengannya. Sementara menurut Ibnu Hajar, Imam Nawawi dan Ibnu Abdil Bar, isbal itu haram  jika dilandasi khuyalaa’ (kesombongan). Tetapi jika tanpa dilandasi kesombongan dan digunakan hanya berdasarkan ukuran pemakainya maka hukumnya makruh. Meskipun demikian memanjangkan sarung atau celana sampai menyentuh tanah dengan atau tanpa kesombongan maka hukumnya haram.***Has

**Penulis adalah Anggota Dewan Penasehat MUI Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *