Hikmah Sakit

Oleh Ma’arif Fuadi, MA*)

Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan sesuatu yang  tidak atau dengan sesuatu yang menyenangkannya.

Allah swt berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 155 – 156 :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun.

Sakit termasuk salah satu ujian yang Allah berikan kepada hambaNya. Dalam pandangan Islam sakit merupakan cobaan yang mengandung banyak hikmah bagi seorang mukmin. Diantaranya :

  1. Sakit dan Musibah adalah Takdir Allah SWT

Firman Allah swt :

  مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah ; dan barang siapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.  Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

  1. Ujian Ketaatan dan Kesabaran

Melalui sakit Allah swt. menempa hambanya untuk selalu tunduk, patuh dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya dengan sabar. Meskipun dalam kondisi kesusahan atas penyakit yang dideritanya perintah-perintah Allah harus tetap dilaksanakan. Karena perintah melaksanakan ketaatan kepada Allah bukan hanya disaat senang terapi juga di saat susah. Apabila seseorang benar-benar mukmin maka seluruh perkaranya baik yang menyenangkan atau menyusahkan baginya adalah baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar,  maka hal itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)

  1. Menghapus dosa

Setiap manusia pasti mempunyai dosa dan kesalahan. Sakit menjadi sebab untuk dihapusnya dosa-dosa. Baik dosa yang dilakukan oleh hati, telinga, mata, lidah dan seluruh anggota tubuh.

Nabi SAW bersabda :

مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلَا نَصَبٍ، وَلَا سَقَمٍ، وَلَا حَزَنٍ، حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

Tidaklah seorang Mukmin ditimpa rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapus dosa-dosanya dengan sebab itu.

  1. Sebagai Balasan atau Azab Atas Dosa Yang Telah Dilakukan

Jika Allah memberikan balasan di dunia atas dosa – dosa yang dilakukan oleh orang-orang beriman, maka justru hal itu sebagai penghapus dari dosa-dosanya dan menjadi cara bagi Allah untuk memberi ampunan  atas taubat hambanya.

Allah swt. berfirman :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. As-Syura : 30)

Rasulullah saw bersabda :

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah Ta’ala akan menyegerakan hukumanNya di dunia. Dan apabila Allah SWT menghendaki kejelekan pada seorang hamba, maka Allah Ta’ala akan menangguhkan (hukumannya) atas dosanya hingga genap di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Bila direnungkan, hadits ini memberitahukan tentang kebaikan Allah terhadap hambaNya. Allah segerakan hukuman  di dunia dan Allah tidak menghukum lagi di akhirat kelak, yang tentunya hukuman di akhirat lebih dahsyat dan berlipat-lipat ganda.  Perlu disadari bahwa hukuman yang Allah turunkan merupakan akibat dosa yang dilakukan hambanya sendiri, salah satu bentuk hukuman tersebut adalah Allah menurunkannya berupa penyakit.

  1. Dicatat kebaikan dan diangkat derajat

Terkadang Allah swt sudah menyiapkan kedudukan yang mulia bagi seseorang, tetapi orang tersebut belum memiliki amal yang sesuai untuk memperoleh kedudukan itu, maka Allah uji dengan sakit atau dengan sesuatu yang tidak ia sukai sehingga setelah melewati ujian dirinya pantas untuk meraih kedudukan itu.

Nabi saw bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِى جَسَدِهِ أَوْ فِى مَالِهِ أَوْ فِى وَلَدِهِ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِى سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan/ditaqdirkan padanya suatu tingkatan yang belum sampai dengan sebab seluruh amalnya maka Allah akan timpakan padanya musibah berkaitan dengan dirinya, hartanya atau pada anaknya, kemudian ia bersabar atas hal tersebut sehingga dengan sebab hal tersebut Allah sampaikan ia pada tingkatan  yang telah ditetapkanNya.

  1. Bukti dicintai Allah swt
عن أنس رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ (إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ)

Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “(Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan jika Allah mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, siapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah) dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)).

  1. Akan mendapatkan kebaikan
عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikan maka Allah berikan musibah kepadanya.

  1. Menjadi sebab untuk masuk surga

Rasulullah saw bersabda :

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”

Hadits ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi orang yang terus menerus menderita sakit dan tidak bisa diharapkan kesembuhannya. Hendaknya ia bergembira, karena bisa jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Artinya surga disediakan baginya jika ia menghadapi sakitnya dengan sabar.

Nabi saw bersabda :

يُوَدُّ أَهْلُ العَافِيَةِ يَوْمَ القِيَامَةِ حِيْنَ يُعْطَى أَهْلُ البَلَاءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُوْدَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ فِيْ الدُّنْيَا بِالْمَقَارِيْضِ

Kelak di hari qiyamat akan menyesal orang-orang yang tidak ditimpa musibah ketika orang-orang yang (sewaktu di dunia) ditimpa musibah diberi pahala. (sampai-sampai mereka bercita-cita) kalaulah dulu kulit mereka dipotong dengan gunting di dunia.

  1. Sarana lntrospeksi Diri

Kesehatan adalah anugrah yang sangat berharga yang sudah diberikan oleh Allah SWT. Tanpa kesehatan yang baik kita tidak bisa melakukan banyak hal dalam kehidupan kita.

Banyak orang yang lalai menjaga kesehatannya dengan berbagai macam alasan. Seperti sibuk, tidak ada waktu dan lain-lain. Setelah sakit barulah sadar  betapa pentingnnya menjaga kesehatan. Melalui sakit orang kembali diingatkan barangkali selama ini tidak berolah raga dengan teratur, tidak memperhatikan makan makanan yang bergizi, kurang istirahat yang cukup, menyepelekan penyakit ringan dan tidak melakukan cek kesehatan secara teratur. Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan, bahkan keduanya seiring sejalan. Barangkali selama ini kesehatan mentalnya kurang terjaga  seperti beribadah dan berdzikir yang tidak teratur,  tidak berfikir positif, memiliki rasa dendam, marah dan buruk sangka. Melalui sakit Allah SWT memberikan kesadaran kembali kepada para hambaNya untuk hidup sehat baik secara fisik maupun batin.

Demikianlah hikmah sakit dalam pandangan Islam. Semoga ketika sakit kita dapat bersyukur dan bersabar. Bersyukur karena melalui penyakit itu Allah masih berkenan mengingatkan agar kita menjadi orang yang insyaf atas berbagai kesalahan, dan  bersabar memohon pertolongan Allah SWT atas musibah penyakit yang menimpa. Mudah-mudahan ketika sehat kita termasuk orang yang banyak bersyukur agar tidak melupakan nikmat sehat dan waktu luang.

Rasulullah saw bersabda :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang sering terlupakan oleh banyak orang: nikmat sehat dan waktu luang.

Wallahu’alamu bisshawwab.

*) Penulis adalah sekretaris umum MUI Kota Administrasi Jakarta Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *