Cara Bersyukur Kepada Allah

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Dalam kehidupan ini, ada dua hal berbeda yang silih berganti yaitu kesenangan dan kesusahan. Ibarat roda berputar, kesenangan hidup kadang di atas, kadang pula di bawah. Banyak manusia putus asa dalam kegelisahan karena tidak mampu menyikapi silih bergantinya kesenangan dan kesusahan itu, sehingga manusia juga banyak yang tidak mampu menikmati apa yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman mereka terhadap makna dan cara bersyukur atas nikmat Allah. Mestinya dia yakin bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya adalah yang terbaik untuk dirinya, sehingga dia bersyukur.

Allah SWT dalam Surat Luqman ayat 12, berfirman:

أَنِ اشْكُرْ ِللهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ

Bersyukurlah kepada Allah. Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.

Kata syukur berasal dari bahasa Arab yang artinya terima kasih. Al-Quran menyebutnya sebanyak 75 kali. Dan sebagian besar para Ahli Tafsir mengartikan kata syukur dengan terima kasih.

Allah SWT  menyuruh manusia bersyukur kepada-Nya, bukan berarti Allah membutuhkan ungkapan syukur dari manusia. Bukan pula karena Allah mengharap pujian dan sanjungan dari manusia. Tanpa manusia bersyukur kepada-Nya, Allah tetaplah Tuhan yang Maha Kaya, Terpuji  dan Berkuasa di jagad raya ini.

Perintah bersyukur itu  sesungguhnya untuk kepentingan dan kebaikan manusia itu sendiri, sebab Allah akan menambah nikmat-Nya kepada manusia apabila manusia bersyukur kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam surat  Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لاَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`matKu) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.

Jika manusia ingkar atas nikmat-nimat-Nya, maka sangat pantas dan sudah barang tentu Allah akan memberikan adzab yang pedih atau paling tidak sekedar sanksi yang berat sesuai ancamanNya. Karena Allah juga langsung memberikan tambahan nikmatNya di dunia bagi mereka yang bersyukur tanpa menunggu lama di akhirat kelak.

Adzab yang Allah berikan di dunia kepada manusia yang tidak bersyukur bisa saja berupa teguran, ujian, cobaan yang tentu saja rasanya tidak enak. Atau bisa juga Allah memberikan kepada mereka berupa guncangan mental yang membuat hidup di dunia ini tidak tenang, gelisah, galau, takut dan lain sebagainya.

Nah itu semua bisa kita lihat dan saksikan sebagai indikasi atau tanda-tanda bagaimana orang-orang yang tidak bersyukur mendapat azab dari Allah. Dan indikasi yang paling gampang bisa kita lihat adalah: mereka merasa iri atas nikmat yang diterima orang lain, suka mengeluh dengan apa yang ia dapat, merasa tak puas dengan apa yang telah ada, wajah tak ceria, murung dan lain sebagainya.

Siksaan-siksaan ringan itu (bila dibanding siksa kubur dan siksa neraka) sering kali menghinggapi mereka. Hal seperti ini sudah pasti membuat mereka hidup dalam kondisi yang tidak tenteram, tidak nyaman, tidak bahagia, gelisah dsb. Dan akibat selanjutnya, mereka bisa mengalami stres berkepanjangan.

Imam Al Ghazali menerangkan bahwa bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu (seperti dikutip dari buku Amalan Pembuka Rezeki tulisan Karya Haris Priyatna, Lisdy Rahayu) :

1. Bersyukur dengan hati

Bersyukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat dan rezeki yang didapatkan semata-mata merupakan karunia dan kemurahan Allah.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah.” (QS An-Nahl [16]:53).

Bersyukur dengan hati bisa membawa seseorang pada sikap menerima karunia Allah, dengan penuh keikhlasan tanpa merasa kecewa atau keberatan betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Pada kondisi ini seseorang hatinya akan merasa gembira yang kemudian diteruskan oleh pancaran wajah ceria yang menyenangkan.

2. Bersyukur dengan lisan

Bila hati seseorang telah sangat yakin bahwa segala nikmat yang didapatkan berasal dari Allah SWT, ia pasti akan mengucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan berterima kasih kepada orang lain yang telah membantu atau memberikan sesuatu kepadanya, karena ia menyadari bahwa berterima kasih kepada manusia hakekatnya juga bersyukut kepada Allah, sebab orang itu sekedar perantara Allah.

3. Bersyukur dengan tindakan

Bersyukur dengan tindakan bermakna bahwa semua nikmat yang diperoleh harus dimanfaatkan di jalan Allah. Bersyukur dengan cara ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, baik melibatkan orang lain atau hanya melibatkan diri sendiri. Yang terkait dengan orang lain misalnya seperti berbagi rejeki, berbagi ilmu pengetahuan, berbagi kegembiraan dan lain sebagainya.

Dalam hidup bermasyarakat, kita sering kali menerima undangan syukuran. Ini adalah contoh bersyukur dalam bentuk perbuatan nyata di mana yang punya hajat berbagi rejeki kepada para tamu dan undangan dengan memberikan jamuan makan, minum, bingkisan dan bahkan transport. Jamuan ini menjadi sedekah yang tentu saja bernilai pahala. Bersyukur semacam ini tentu memilki dasar yang kalau kita telusuri akan kita temukan dalam Al-Qur’an Surat Adh-Dhuha ayat 11:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap ni`mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.”

Perintah berbagi kenikmatan dengan orang lain dapat ditelusur salah satunya  melalui ayat ini dengan maksud agar mereka juga ikut merasakan kebahagiaan yang kita rasakan. Ini yang sering disebut dengan tahadduts binni’mah.

Tentu saja tahadduts binni’mah ini baik. Hanya saja perlu diingatkan agar pelaksanaannya tidak berlebihan dan harus dilakukan dengan niat ikhlas agar tidak ada niat lain kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Niat-niat lain seperti keinginan untuk pamer atau riya’ atas apa yang telah dicapai sebagai keberhasilan harus benar-benar dihindari, sebab riya’ merupakan akhlak yang sangat tercela yang justru bisa menjauhkan kita dari Allah SWT.

Ungakapan rasa syukur dalam bentuk tindakan yang hanya melibatkan diri sendiri juga bisa diwujudkan dalam bentuk meningkatkan intensitas beribadah. Hal ini biasa dilakukan Nabi Muhammad SAW secara istiqamah dalam kehidupan sehari-harinya. Walaupun beliau sudah dijamin masuk surga,  beliau tetap rajin beribadah melebihi siapapun di dunia ini hingga kedua kaki beliau bengkak. Semua ini beliau lakukan sebagai pengakuan dan ungkapan rasa syukur atas semua kenikamatan yang beliau terima dari Allah SWT.  Ini menunjukkan bahwa ajaran bersyukur memang memiliki tempat yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Allah menyukai orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Nya sehingga Dia akan menambah nikmatNya bagi siapa saja yang bersyukur.

4. Merawat kenikmatan

Apabila mendapatkan nikmat dari Allah SWT usahakan untuk merawatnya agar tidak rusak. Hal ini seperti menjaga amanah dari Allah. Contohnya adalah seseorang yang diberikan karunia tubuh yang sehat, maka ia wajib menjaga agar tubuhnya tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Caranya tentu saja makan makanan yang halal dan baik. ***Has

—–Di olah dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *