PWNU DKI Jakarta Bentuk Aswaja NU Center

MUI KOTA JAKARTA TIMUR – Ahlusssunnah wal-Jama’ah (ASWAJA) pada hakikatnya adalah ajaran Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Oleh karenanya, secara embrional, ASWAJA sudah muncul sejak munculnya Islam itu sendiri. Hanya saja penamaan Ahlussunnah wal-Jamaah sebagai sebuah nama kelompok tidaklah lahir pada masa Rasulullah, tetapi muncul pada akhir abad ke 3 Hijriyah.

Dalam catatan sejarah pemikiran Islam, Al-Zabidi adalah ulama yang pertama kali mengenalkan istilah Ahlussunnah wal-Jamaah. Beliau mengatakan, “Kalau dikatakan Ahlussunnah wa al-Jamaah, maka yang dimaksud adalah kelompok ummat Islam yang mengikuti imam al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam bidang ilmu Tauhid”. Namun demikian rumusan al-Zabidi di atas tentu hanya satu versi dari sebuah rumusan definisi ASWAJA di antara definisi-definisi lainnya.

Salah satu ormas keagamaan yang kemudian menformulasikan ajaran ASWAJA sebagai dasar ajaran agamanya adalah Nahdhatul Ulama (NU). Kerangka pemahaman ASWAJA yang dikembangkan NU memiliki karakteristik yang khusus yang mungkin juga membedakan dengan kelompok muslim lainya, yaitu bahwa ajaran ASWAJA yang dikembangkan berporos pada tiga ajaran pokok dalam Islam yang meliputi bidang Aqidah, Fiqh dan Tasawwuf.

Di tengah maraknya aliran, ajaran dan sekte dalam Islam (terutama kalangan Wahabi), di mana mereka masing-masing menganggap bahwa golongannya yang benar, karena menganggap ajarannya paling sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Alloh SWT. dan Rasul SAW.

Yang demikian itu bukanlah hal baru, karena sudah pernah terjadi pada zaman sahabat, seperti munculnya Syi’ah, Khawarij dan sejenisnya. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah hadits :

Dari Abdullah bin Amr RA, berkata : Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya umat Bani Israil terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan yang akan selamat. Para sahabat bertanya : “Siapa satu golongan yang selamat itu wahai Rasulalloh?“ Beliau menjawab : “Golongan yang mengikuti ajaranku dan para sahabatku“ (HR. At-Tirmidzi)

Guna menyikapi perbedaan pandangan yang semakin tajam dan terbuka, bahkan sudah melibatkan berbagai media dalam kampanye penyebaran ajarannya, PWNU DKI Jakarta membentuk ASWAJA NU CENTER yang pengukuhannya dilaksanakan bersamaan dengan INTIGHOSAH LEMBAGA DAKWAH PBNU pada Malam Rabu (29 Maret 2017) di Masjid An Nahdiah PBNU.

Setelah memberikan kata sambutan, DR. KH. M. Buchori Muslim, MA selaku sekretaris Lembaga Dakwah PBNU melantik dan mengukuhkan Pengurus ASWAJA NU CENTER PWNU DKI Jakarta dengan KH. Abdul Muiz Ali sebagai direkturnya.

Dalam melaksanakan tugasnya, Aswaja NU Center PWNU DKI Jakarta mempunyai enam asisten direktur, yakni:

  1. Asisten Direktur Bidang Uswah (Usaha Sosialisasi Ahlus-sunnah wal Jama’ah) = Ust. Hasbullah Ilan
  2. Asisten Direktur Bidang Biswah (Bimbingan dan Solusi  Ahlus-sunnah wal Jama’ah) = Ust. Abdussalam
  3. Asisten Direktur Bidang Dakwah (Dauroh dan kaderisasi Ahlus-sunnah wal Jama’ah) = Ust. Deden Hidayaturrohman dan Ust. Khoirul Azmi
  4. Asisten Direktur Bidang Kiswah (Kajian Islam ala Ahlus- sunnah wal Jama’ah ) = Ust. Hamdan Maulana
  5. Asisten Direktur Bidang Makwah (Maktabah Ahlus-sunnah wal Jama’ah) = Ust. Humaidi
  6. Asisten Direktur Bidang Humas (Hubungan Masyarakat) = Ust. H. Ismail

Semoga kedepan bisa mengawal Aswaja.***Has

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *