Antara Perang Shiffin dan Demo 4 Nopember 2016

Sebuah Refleksi Cara Tahkim Ala Istana?

Oleh : Abdul Muiz Ali

Menarik untuk dicermati sekaligus kita analisa cara aparat kepolisian ‘melawan‘ para demontrasi yang ditujukan kepada Ahok yang di nilai menistakan al-Quran dan ulama.

Pada hari jumat, 14 Oktober 2016, ketika ribuan demonstran semangat berujuk rasa di depan Balai Kota Jakarta, dari dalam Balai Kota terdengar suara Asmaul Husna yang menggema. Sementara tadi pagi Kapolri jenderal polisi Tito Karnavian, menggelar apel bersama dengan ribuan polisi di Monas dengan menggunakan surban dan peci putih untuk persiapan menghadapi demo lanjutan, 4 November 2016 dengan tuntuan yang sama seperti di Balai Kota kemaren. Ini menjadi trend baru kepemerintahan Jokowi untuk menghalau atau mendinginkan para demonstran yang berbasis Islam ataukah ini bagian dari ‘tipu muslihat’ ala Istana? Entahlah!.

Yang Jelas, Balai Kota DKI Jakarta ada pujian-pujian Islami adalah hal yang tidak lazim, dan apalagi polisi berkalung surban dan peci putih adalah sesuatu yang tak wajar.

Bisa jadi, Asmaul husna, al-Quran dan bacaan yang di nilai agung dan suci oleh umat Islam mulai dijadikan instrumen untuk kepentingan politik dan kepentingan tertentu di luar kepentingan dan kepantasan pada umumnya. Atau bisa jadi ini suatu saat akan dijadikan ‘tipu muslihat‘ untuk melemahkan orang Islam.

Cara seperti diatas, bisa kita ‘miripkan’ dengan peristiwa Tahkim pada saat perang Shiffin bulan Shafar 37 H, di mana para sahabat dengan pimpinan Sayyidina Ali menyerang kubu  Muawiyah radiyallahuanhum. Ketika kubu Muawiyah semakin terdesak, sahabat Amru bin Ash menyeru kepada pihak Muawiyah untuk bedamai (bertahkim) pada al-Quran seraya meletakan mushaf di atas tombak sebagai isyarat semuanya harus menghentikan peperangan dan kembali pada ajaran al-Qur’an.

Barangkali kalau dulu sahabat Amru bin Ash menyeru damai dengan bertahkim pada Kitabullah, sedangkan untuk sekarang, pihak Istana lebih tepatnya Kapolri ingin bertahkim (mengharap damai) dengan menggunakan simbol keagamaan seperti surban dan peci putih untuk kepentingan keutuhan dan kedamaian republik Indonesia.

Dan perlu di ingat, bahwa antara perang Shiffin dan demo 4 November 2016 nanti sama-sama terjadi di bulan Shafar.

Ya Allah …. !!!

Berikanlah kedamaian untuk bangsa ini

Dan berikan pula kemenangan untuk umat Islam ini.

——————

Penulis adalah Anggota Komisi Fatwa MUI Jakarta Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *